Edukasi

Film Dokumenter “The Last Supper (Whisper)” Angkat Kisah Pilu Eks-Tapol yang Kehilangan Hak Hidup dan Karier

TopCareer.id – Tragedi kemanusiaan Operasi Trisula pada tahun 1968 di Blitar Selatan, Jawa Timur, masih menjadi salah satu babak kelam sejarah konsolidasi kekuasaan Orde Baru yang minim diketahui publik. Guna merawat ingatan kolektif sekaligus menuntut keadilan bagi para penyintas, Pusat Riset dan Advokasi Serikat Jesuit (PRAKSIS) menggelar pemutaran dan diskusi film dokumenter “The Last Supper (Whisper)” (2026) di Jakarta pada Jumat (25/9/2026).

Disutradarai oleh sineas berprestasi Daniel Rudi Haryanto, film ini menyoroti kisah tiga petani biasa yang menjadi korban salah tangkap dan dituduh sebagai simpatisan komunis: Markus Talam (87), Suyatman (76), dan mendiang Soekiman yang wafat pada tahun 2020. Tanpa proses pengadilan, ketiganya mengalami penyiksaan fisik. Suyatman dan Soekiman disiksa di penjara Blitar, sementara Talam harus menjalani satu dekade kerja paksa di kamp konsentrasi Pulau Buru. Saat dibebaskan, mereka hanya mengantongi “Surat Pelepasan Sementara”, sebuah status menggantung yang menghancurkan masa depan mereka.

Bagi audiens usia produktif saat ini, kehilangan kesempatan berkarier mungkin menjadi ketakutan terbesar. Hal inilah yang secara nyata dialami oleh para penyintas Trisula. Rudi mengungkapkan bahwa stigma negatif membuat mereka dan keturunannya dianggap “tidak bersih lingkungan”, sebuah label politis yang melarang mereka bekerja di instansi pemerintah atau mengejar jalur karier tertentu.

“Tanah, kebun, dan aset keluarga mereka banyak yang dirampas dan digunakan untuk fasilitas umum atau tempat tinggal orang lain. Akibat operasi militer Trisula, mereka dan keluarga mereka mengalami penderitaan fisik dan psikologis yang berkepanjangan,” ungkap Rudi.

Trauma psikologis itu tergambar jelas dalam keseharian para penyintas. Suara gamelan yang semestinya harmonis, bagi Talam justru menjadi pemicu trauma yang mengingatkannya pada suara gedoran pintu oleh aparat militer. Sementara itu, Suyatman terus dihantui memori kelam tentang Goa Tikus, lokasi eksekusi saudarinya dan puluhan warga lainnya. Di usia senja, ketiganya berkumpul dalam sebuah “santap malam terakhir”, berbisik dan berbagi luka sembari merawat ingatan yang hampir terkubur di hutan jati.

Meski mengangkat tema yang berat, “The Last Supper (Whisper)” dieksekusi dengan pendekatan artistik yang brilian. Diproduksi selama kurun waktu 2017 hingga 2025, film ini menggunakan animasi, desain suara yang detail, serta sisipan simbol budaya Jawa khas Blitar Selatan. Pendekatan ini sengaja dipilih agar penonton dapat menyelami trauma mendalam para subjek dengan cara yang lebih berterima secara visual dan emosional.

Kualitas penggarapan ini tidak lepas dari rekam jejak Daniel Rudi Haryanto, alumnus Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang sebelumnya meraih Directors Guild of Japan Award di YIDFF. “The Last Supper (Whisper)” sendiri telah tayang perdana di Jogja-NETPAC Film Festival 2025 dan baru-baru ini berhasil menyabet penghargaan “Best Film” di ajang Festival International de Cinéma Asiatique de Tours (FICAT), Prancis, pada April 2026.

Karya dokumenter ini didedikasikan sepenuhnya bagi para korban kekerasan negara terhadap masyarakat sipil yang hingga hari ini masih berjuang dalam sunyi untuk mendapatkan kembali hak-hak kemanusiaan mereka yang pernah dirampas.

Banner Loker

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button