Lifestyle

Masalah Kesehatan Mental Ancam Produktivitas dan Ekonomi

TopCareer.id – Kesehatan mental bukan hanya berdampak pada individu, tapi juga produktivitas, kualitas hidup, dan ketahanan ekonomi secara lebih luas.

Dalam laporan The Value of Mental Health yang dirilis April 2026, Zurich Insurance Group menemukan bahwa upaya menjaga kesehatan mental harus jadi perhatian bersama, karena implikasi sosial dan ekonominya yang signifikan.

Laporan ini mengkaji dampak kesehatan mental dari tiga perspektif yaitu people (manusia), productivity (produktivitas), dan protection systems (sistem perlindungan seperti asuransi, layanan kesehatan, dan jaminan sosial). Enam negara yang jadi kajian yaitu Australia, Chile, Jerman, Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Inggris.

Mengutip siaran pers, Sabtu (3/10/2026), dari aspek manusia, laporan menunjukkan prevalensi gangguan kesehatan mental terdiagnosis diproyeksikan berada pada kisaran 12 persen hingga 27 persen dari populasi pada 2030 di negara-negara tersebut. Anxiety atau kecemasan tercatat sebagai kondisi yang paling dominan.

Baca Juga: Karyawan Takut Bicara soal Kesehatan dan Kesejahteraan, Ini Dampaknya bagi Perusahaan

Temuan ini sejalan dengan kondisi di Indonesia, di mana prevalensi gangguan kesehatan mental meningkat dari 6 persen pada 2013 menjadi 9,8 persen pada 2018, dan pada 2023 diperkirakan mencapai sekitar 20 persen dari populasi dengan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.

Kemudian dari segi produktivitas, gangguan kesehatan mental berpotensi menimbulkan kerugian produktivitas hingga 5 persen dari produk domestik bruto (PDB) di negara-negara yang diteliti.

Kerugian terbesar diperkirakan bukan berasal dari cuti sakit, tapi dari berkurangnya partisipasi masyarakat dalam angkatan kerja yang disebabkan oleh gangguan kesehatan mental tersebut. Di tingkat individu, seseorang dengan gangguan kesehatan mental dapat kehilangan sekitar 60 hingga 67 hari hidup sehat setiap tahunnya.

Di enam negara yang menjadi cakupan studi, dampak terhadap kesejahteraan dan kualitas hidup (wellbeing loss) diperkirakan mencapai sekitar USD 1 triliun per tahun.

Baca Juga: 28 Juta Orang RI Diduga Kena Masalah Kejiwaan, Siapa yang Berisiko?

“Berbagai temuan ini menunjukkan bahwa kesehatan mental memiliki dimensi yang lebih luas daripada persoalan kesehatan semata, termasuk terhadap produktivitas, kualitas hidup, dan ketahanan ekonomi,” kata Edhi Tjahja Negara, Country Manager dan Direktur Utama PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk.

Di sisi lain, sistem perlindungan juga punya peran penting dalam membantu individu dalam mengidentifikasi, mengakses, dan memperoleh dukungan yang tepat sejak dini.

“Dari sisi perlindungan, kami melihat pentingnya bergerak lebih awal, bukan hanya ketika risiko sudah terjadi. Edukasi dan akses terhadap dukungan yang relevan dan tepat waktu menjadi bagian penting untuk membantu individu menjaga kualitas hidup dan tetap terhubung dengan pekerjaan, keluarga, maupun komunitas,” pungkas Edhi.

Banner Loker

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button