Karyawan Takut Bicara soal Kesehatan dan Kesejahteraan, Ini Dampaknya bagi Perusahaan
TopCareer.id – Rasa ketidakpercayaan karyawan untuk menyampaikan masalah kesehatan dan kesejahteraan di tempat kerja bisa berdampak pada berjalannya bisnis.
Pemodelan ekonomi yang dilakukan Centre for Economics and Business Research (CEBR) di Inggris Raya, Amerika Serikat, dan Jerman menunjukkan, organisasi akan mendapat keuntungan jika karyawan dapat mengutarakan apa yang mereka hadapi dalam kesejahteraan dan kesehatannya.
Menurut riset termasuk, manfaat ini termasuk meningkatnya produktivitas dan retensi karyawan.
Sebaliknya, ada tiga dampak utama ketika karyawan tidak memiliki kepercayaan yang cukup untuk menyampaikan masalah kesehatan dan kesejahteraan di tempat kerja.
Dampak pertama yaitu absenteisme. Karyawan dengan tingkat kepercayaan rendah cenderung memiliki jumlah hari tidak masuk kerja yang lebih banyak dalam setahun. Mereka mungkin lebih jarang mengambil cuti, tetapi ketika cuti, durasinya lebih panjang sehingga lebih sulit dikelola perusahaan.
Kedua yaitu presenteeism. Karyawan dengan kepercayaan rendah juga lebih sering mengalami presenteeism, atau tetap bekerja meski sedang tidak sehat. Alih-alih meminta penyesuaian kerja, karyawan tetap memaksakan diri bekerja, sehingga produktivitas secara keseluruhan menurun. Kondisi ini terutama terlihat pada masalah psikologis atau kesehatan mental.
Dampak ketiga yaitu rendahnya retensi karyawan. Pekerja yang tidak merasa percaya diri untuk menyampaikan masalahnya lebih berisiko meninggalkan pekerjaan atau mengambil cuti panjang yang tidak terencana.
Baca Juga: Pekerja Indonesia Paling Bahagia di Asia Pasifik, Tapi Diintai Burnout
Kate Field, Global Head of Human and Social Sustainability BSI mengatakan, meskipun riset ini berfokus pada tiga negara, temuan tersebut dapat diterapkan secara global.
“Kesejahteraan di tempat kerja dimulai dari budaya saling percaya. Ketika karyawan menghadapi tantangan kesehatan, perusahaan tetap dapat mengambil peran,” ujarnya, mengutip siaran pers, Kamis (30/7/2026).
Ia mengatakan, perusahaan sesungguhnya bisa melakukan langkah-langkah sederhana namun berarti untuk mendukung karyawan, sekaligus menjaga kinerja dan ketahanan organisasi.
“Temuan kami menunjukkan bahwa ketika kepercayaan belum terbangun dan dukungan sulit diakses, masalah kesehatan karyawan lebih berisiko memburuk hingga akhirnya menyebabkan mereka tidak masuk kerja,” imbuhnya.
Jika melihat pada kondisi ketenagakerjaan di Indonesia, tenaga kerja di tanah air dinilai berada dalam kondisi paradoks “bahagia tetapi burnout.”
Workplace Happiness Index dari Jobstreet by SEEK menunjukkan kontradiksi tersebut, di mana Indonesia menempati peringkat tertinggi di Asia-Pasifik (APAC) dalam hal kebahagiaan di tempat kerja, yaitu sebesar 82 persen, namun 43 persen pekerja mengaku mengalami burnout.
Kondisi ini sejalan dengan temuan yang lebih luas. Workplace Wellbeing Score Indonesia 2025 mencatat skor rata-rata kesejahteraan mental Indonesia sebesar 50,98 persen, jauh di bawah rata-rata global yang mencapai 58,62 persen.
Meningkatnya kesadaran soal kesehatan mental juga belum sepenuhnya diwujudkan dalam kebijakan resmi di tempat kerja. Korn Ferry, sebuah perusahaan konsultan industri, menyebut 45 persen perusahaan di Indonesia belum punya kebijakan kesehatan mental yang terstruktur.
Baca Juga: Menaker: Kesehatan Mental Bagian Penting dari Sistem Manajemen K3
Di sisi lain, Indonesia kini juga resmi memasukkan risiko psikososial ke dalam kerangka Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) nasional. Maka dari itu, fokus K3 saat ini tak lagi sebatas risiko fisik di tempat kerja, tapi juga mulai mencakup kesehatan mental dan kesejahteraan karyawan.
Meski stigma terhadap isu kesehatan dan kesejahteraan perlahan mulai berkurang, masih banyak pekerja yang belum merasa nyaman meminta bantuan kepada perusahaan. Secara global, hanya 22 persen orang yang pernah mengalami tantangan psikologis atau kesehatan mental merasa benar-benar percaya diri untuk membicarakannya dengan atasan langsung.
Sementara itu, hanya sekitar 20 persen yang merasa nyaman menyampaikannya kepada HR. Di sisi lain, 57 persen responden menyatakan kondisi kesehatan mental yang buruk telah memengaruhi perkembangan karier mereka.
Nolia Natalia, Managing Director British Standards Institution Indonesia menambahkan, kondisi paradoks “bahagia tapi burnout” di Indonesia menunjukkan bahwa sentimen positif dan tingkat absensi yang rendah belum tentu menggambarkan kondisi kesehatan tenaga kerja yang sebenarnya.
“Kehilangan produktivitas sering kali tersembunyi dalam kinerja sehari-hari, sehingga menciptakan tantangan produktivitas yang tidak terlihat,” ujarnya.
Ia menegaskan, perusahaan-perusahaan di Indonesia perlu melihat lebih jauh dari sekadar metrik dan mulai membangun budaya kepercayaan, di mana karyawan merasa aman untuk mencari dukungan dan percaya tindakan tersebut akan membawa perubahan.
“Ini menjadi sangat penting, terutama di lingkungan kerja di mana menyampaikan persoalan pribadi kepada atasan bisa terasa berisiko atau dianggap sebagai kelemahan. Langkah ini akan menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas dan memperkuat ketahanan tenaga kerja,” pungkasnya.



