Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Rabu, Juli 28, 2021
redaksi@topcareer.id
Tren

Pentingnya Startup Jeli Memilih Investor

Topcareer.id Para pendiri startup berhak dan perlu jeli memilih investor mana yang akan diincar demi perusahaan startupnya kelak. Ingat bahwa investor bisa membuat hidup lebih mudah atau lebih sulit bagi pengusaha.

Bukan hanya karena butuh uang modal, kemudian tak menyeleksi atau memilih dengan benar siapa investornya. Bahkan dinilai perlu ratusan faktor untuk mempertimbangkan siapa investor yang pantas mendanai perusahaan startupmu.

Chief Partneship Officer (CPO) perusahaan startup edukasi, Haruk Edu, Gerald Ariff pun mengakui bahwa tidak bisa sembarangan asal pilih investor jika terkait pendanaan. Apalagi, kata Gerlad meneruskan, startup yang ia dirikan bersama teman-temannya itu bergerak dalam bidang edukasi.

“Jadi kami cari investor yang nggak begini: ‘Kami taruh (investasi) tahun ini, tahun depan bisa 100 kali lipat.’ Bukan seperti itu. Perlu investor yang perlu memahami, care about social impact itu, social impact company,” kata Gerald saat ditemui TopCareer.id beberapa waktu lalu.

Menurutnya, mencari pendanaan dengan background bisnis pendidikan susah-susah gampang meski berkaitan dengan teknologi. Timnya perlu menyaring investor yang mau bersabar akan return of investment (ROI) lantaran bisnis pendidikan bukanlah bisnis yang cepat meraih keuntungan.

Itu salah satu pertimbangan dalam menyeleksi siapa investor yang tepat untuk startup yang dibangun. Ada beberapa pertimbangan lainnya yang memengaruhi pemilihan investor. Dilansir dari laman Cnet tiap founder memiliki pertimbangan dalam memilih investor, berikut di antaranya.

  1. Temukan investor yang dapat kamu percaya
    Hal ini sudah pasti akan dilakukan oleh founder ketika akan mencari investor. Co-founder Twilio (platform komunikasi), Danielle Morrill menyampaikan, pilihlah investor yang percaya padamu secara pribadi, nyaman untuk berbicara lebih terbuka, dan tidak akan meninggalkan bisnis ketika mengalami masa sulit.
    “Pada tahap awal perusahaan, pasti akan banyak perubahan. Banyak pengalaman yang baru dan bahkan menakutkan. Ketika mengetahui bahwa kamu dapat memercayai mereka (investor) saat paling rentan, dan memberi tahumu apa yang perlu kamu dengar (bukan apa yang kamu ingin dengar) pada hari-hari awal itu tak ternilai harganya,” kata Danielle.
  2. Temukan investor yang memecahkan masalahmu saat ini
    Co-Founder GroupMe, Steve Martocci, yang menjual perusahaannya ke Skype pada tahun 2011, mengatakan bahwa kamu memerlukan berbagai jenis investor untuk berbagai tahap siklus kehidupan perusahaan.
    “Di babak pertama kami, penting untuk menemukan investor yang percaya pada kami dan memungkinkan kami untuk mengeksekusi visi kami tanpa menghalangi. Kami mendapat dukungan besar dan umpan balik produk dari seed investor kami tanpa perlu menyerahkan kursi dewan,” kata Martocci.
    Martocci dan timnya menghadapi masalah lain di kemudian hari, yang membutuhkan investor berbeda yang dapat membantu mereka memecahkan tantangan terbesar mereka. “Di babak kami nanti, itu tentang mencari investor yang dapat menambah nilai dengan membantu menyelesaikan masalah terbesar kami – dalam kasus kami, hubungan operator dan biaya SMS,” ujar dia.
  3. Diversifikasi
    Ketika datang waktunya untuk bekerja sama soal pendanaan, khususnya pendanaan tahap awal, pasti akan terjadi hal-hal yang beragam. Menurut Founder dan CEO Enplug (software), Nanxi Liu, dalam situasi tersebut kamu pasti ingin memiliki investor dengan keahlian yang saling melengkapi.
    “Kami memilih investor dari beragam industri. Misalnya, tim investor kami termasuk kepala lembaga keuangan utama, musisi pemenang Grammy, eksekutif agensi iklan, dan CEO perusahaan teknologi utama. Kami mulai melakukan ini sejak awal dalam penggalangan dana kami, yang mempermudah kami untuk meyakinkan investor baru bergabung,” papar Liu.
    Ini terutama berlaku untuk tim yang masih muda. Pengalaman investor yang cerdas dapat membuat atau menghancurkan perusahaan. “Tim dan karyawan pendiri kami berusia 20-an dan 30-an, jadi investor kami menambahkan ‘rambut abu-abu’ yang disukai orang lain dalam sebuah organisasi,” tambah Liu.
  4. Temukan investor yang selaras dengan minatmu
    Neal Sales-Griffin, pendiri Starter League yang berbasis di Chicago menghindari investasi yang dirancang untuk mendapatkan pengembalian melalui jalan keluar atau akuisisi. Menurutnya, cari investor yang mendukung perusahaanmu menjadi bisnis yang hebat, tahan lama, dan berkelanjutan. Pastikan mereka benar-benar percaya pada misi yang disampaikan.
    “Jason Fried yang berusia 37 tahun dan saya, saling mengenal satu sama lain selama satu tahun. Kami bertemu ketika saya punya ide, sementara dia pikir itu ide menarik. Dia tidak berbagi banyak hal sebelum saya benar-benar menunjukkan progress nyata,” kata Neal.

Lebih lanjut Neal menambahkan bahwa dia memiliki beberapa peluang investasi, tetapi menolaknya karena dia ingin membangun bisnis yang tidak bergantung pada sumber daya luar agar dapat berjalan. Saat itulah percakapan memanas, akhirnya menghasilkan investasi kecil.

“Setelah serangkaian percakapan, kami menyadari bahwa kami telah menyelaraskan minat dalam pendidikan. Saya piker, itulah kunci untuk investasi apapun. Kepentingan yang sejalan memungkinkan kami untuk menyelesaikan transaksi dengan cara yang sama-sama kami lakukan.”*

Editor: Ade Irwansyah

Tinggalkan Balasan