Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Follow @topcareerid Instagram

SKILLS.ID

Monday, September 16, 2019
redaksi@topcareer.id
Tips Karier

Mengenal 5 Tipe Imposter Sindrom

Views

Topcareer.id – Pernahkah kamu berpikir kalau prestasi dan kesuksesan yang didapat adalah hasil dari keberuntungan atau kebetulan?Fenomena psikologis ini dikenal sebagai Imposter Sindrom. 

Sindrom ini membuat kamu berpikir bahwa kamu adalah seseorang yang sukses dalam berkarier, padahal sebetulnya kamu orang yang tidak kompeten untuk menduduki jabatan itu. Kamu berada di posisi itu karena beruntung saja, meskipun pada kenyataannya tidak begitu.

Dikutip dari Themuse.com, Dr. Valerie Young dalam bukunya The secret thoughts of successful women: Why capable people suffer from the imposter syndrome and how to thrive in spite of it telah mengategorikan sindrom ini dalam beberapa kelompok yaitu perfeksionis, superwomen/superman, natural genius, solois dan expert. Berikut penjelasannya:

  • Perfeksionis

Perfeksionis dan imposter sindrom berjalan beriringan. Perfeksionis selalu menetapkan tujuan terlalu tinggi untuk diri mereka sendiri, jadi  ketika mereka gagal mencapai tujuan mereka mengalami keraguan yang besar terhadap diri sendiri. Kelompok perfeksionis ini ingin segala sesuatu diselesaikan dengan benar maka itu mereka harus menyelesaikannya sendiri.

Orang yang perfeksionis tidak cepat merasa puas dan sukses, karena mereka percaya bisa melakukannya lebih baik lagi. Namun hal ini tidaklah produktif dan tidak baik untuk kesehatan diri sendiri. Percayalah di dunia ini tidak pernah ada kesempurnaan. Dan kegagalan dan kesalahan adalah suatu proses yang harus dialami dan dilewati.

  • Superwomen/Superman

Orang yang termasuk kategori ini sering mendorong diri mereka bekerja lebih keras dan lebih sulit dari kebanyakan orang. Tapi itulah cara mereka menutupi rasa kegelisahan mereka. Pekerjaan yang berlebih tidak hanya dapat membahayakan kesehatan mental, tapi juga dapat membahayakan hubungan mereka dengan orang lain. Mulailah latih diri kamu untuk menjauh dari validasi eksternal. Tidak ada seorangpun yang mempunyai kekuatan untuk membuat kamu merasa lebih baik daripada diri kamu sendiri.

  • The Natural Genius

Young mengatakan orang-orang dengan kompetensi ini percaya mereka membutuhkan kejeniusan yang alami. Mereka mengukur dan menilai kesuksesan berdasarkan dari kemampuan, bukan usaha yang mereka telah lakukan. Sama seperti perfeksionis, tipe imposter ini menempatkan target internal mereka sangat tinggi.  Ketika mereka tidak dapat melakukan sesuatu dengan cepat dan lancar, mereka akan segera waspada.

  • Solois

Solois menganggap meminta bantuan sebagai perbuatan tercela. Tidak masalah menjadi pribadi yang mandiri, tetapi jangan terus menerus menolak bantuan yang sebenarnya kamu butuhkan untuk membuktikan kemampuan diri sendiri.

  • Expert

Para expert selalu mengukur kompetensi mereka berdasarkan “apa” dan “seberapa banyak” yang mereka tahu atau yang bisa dilakukan. Mereka takut akan terekspos sebagai orang yang tidak berpengalaman atau tidak berpengetahuan luas.

Memang benar bahwa selalu ada sesuatu yang harus dipelajari setiap saat. Berusaha meningkatkan keahlian dan keterampilan bisa sangat membantu untuk menjadi profesional dan membuat kamu tetap kompetitif di pasar kerja. Mulailah berlatih “just ini time learning”, sebuah pembelajaran untuk mendapatkan keterampilan saat kamu membutuhkannya.

Beberapa penelitian menyebutkan 70% orang mengalami imposter sindrom pada satu titik dalam karier mereka. Jika kamu mengalaminya maka kamu berkesempatan untuk menorehkan prestasi pada kesempatan, daya tarik, koneksi, atau faktor eksternal lainnya. Mulai sekarang ambilah peluang untuk mulai menerima kemampuan pada diri sendiri.*

Editor: Ade Irwansyah

the authorSherly Agnesia

Leave a Reply