Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Wednesday, July 8, 2020
redaksi@topcareer.id
Profesional

Kurator Harus Paham Seni Desain Arsitektur, Ini Alasannya

Topcareer.id – Pekerjaan kurator mencakup hampir semua bidang seni, termasuk di dalamnya seni desain arsitektur pada sebuah pameran yang ia kurasi. Dalam desain arsitektur, profesi kurator punya peran krusial tersendiri, yakni menyeleksi. Bahkan proses ini dinilai sebagai hal yang bahaya.

“Jadi harus bertanggung jawab, sih. Bertanggug jawab di sini berarti harus ada pandangan, harus ada tujuan, harus ada gagasan. Apa yang mau dibicarakan dalam sebuah pameran,” kata Danny Wicaksono sebagai Founder & Principal Architect dari Studio Dasar, Sabtu (5/10/2019).

Kurator, lanjut Danny, dalam bidang arsitektur fungsinya untuk menyeleksi secara bertanggung jawab. Agar, suatu bangunan, desain arsitektur tersebut bisa dimaknai dan dilihat lebih jauh dari sekadar objek belaka. Tapi juga keberadaannya dalam perkembangan budaya Indonesia.

Fungsi kurator dalam desain arsitektur lainnya yang disebutkan Danny, yaitu sebagai bentuk penjelasan karya. Penjelasan soal kenapa karya tersebut bagus dan mejeng di pameran, karya itu membicarakan soal apa. Semua seolah tampak dari kerja kurator.

“Supaya orang yang hadir, mereka bisa melihat jelas yang ditampilkan ini untuk apa. Kenapa ini semua diperlihatkan, suapaya ada penjelasan. Clarity. Fungsi kurator dalam arsitektur untuk itu,” ucap Danny yang juga menjadi salah satu pembicara di Idea Fest 3029.

Seorang kurator juga bisa menghasilkan pemahaman bagi orang-orang yang melihatnya mengenai situasi atau topik masalah tertentu.

Dalam bidang arsitektur sendiri, ada dua pameran yang biasanya melibatkan kurator. Yang pertama, tipe pameran karya, seperti pameran tunggal atau bersama-sama yang diperlihatkan secara langsung. Yang kedua, pameran yang sifatnya informasional.

Pameran ini biasanya berupa arsip atau data atau bahkan temuan hasil riset yang dikumpulkan kemudian disusun menjadi satu narasi yang baru atau narasi yang berbeda.

“Nah, tipe seperti ini (tipe pameran kedua) di Indonesia kurang sekali terutama masalah arsitektur dan desain. Karena apa? Karena butuh keberanian. Keberanian untuk bilang ‘Menurut saya fakta ini digabung dengan fakta ini maka akan ada kesimpulan ini.’ Pemahamannya harus banyak.”

Lebih lanjut Danny mengatakan, keberanian soal gagasan dan statement itu bisa hadir kalau kurator ini tahu banyak mengenai apa yang udah pernah terjadi dalam arsitektur di Indonesia atau di dunia selama paling tidak 100 atau 150 tahun terakhir. *

Editor: Ade Irwansyah

Leave a Reply