Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Follow @topcareerid Instagram

SKILLS.ID

Friday, November 15, 2019
redaksi@topcareer.id
Lifestyle

Jangan Remehkan 3 Hal Ini saat Naik Gunung

Ilustrasi. Sumber foto: Outside MagazineIlustrasi. Sumber foto: Outside Magazine

Topcareer.id – Di samping menyegarkan pikiran, wisata mendaki gunung juga penuh bahaya mengancam jika persiapannya asal-asalan.

Lantaran tak mengerti medan dan hanya tahu info di permukaan, pendaki pemula kerap melakukan kesalahan yang bisa berakibat fatal.

Ketua Umum Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI), Vita Cecilia dan Sekretaris Umum APGI, Rahman Mukhlis berbagi kepada Topcareer.id, hal yang sering diremehkan pendaki gunung, terutama para pemula.

Bekal makanan cuma “miras”

Satu hal yang digarisbawahi oleh Rahman ketika memberi tips kepada pendaki pemula, yakni lengkapi perbekalan makanannya. Jangan asal-asalan, lantaran aktivitas pendakian gunung itu cukup berat.

“Perbekalan ngasal itu dia cuma bawa mi instan, beras. Istilahnya cuma bawa ‘miras’ doang gitu kan. Yang bener itu bawa 4 sehat 5 sempurna. Jadi setiap hari ada makan daging, itu kan lemak ya. Ada makan protein, telor. Ada buah juga sayur,” ucap Rahman, Jumat (2/8/2019).

Vita menambahkan, karena secara fisik tubuh terus terforsir saat mendaki gunung, bahkan bisa jalan sampai 8 jam, maka asupan makanan itu penting diperhatikan. Harus bisa mengisi energi yang dibutuhkan.

Ambil waktu istirahat panjang

“Banyak pendaki muda itu yang lari. Tapi habis lari itu istirahatnya lama, tidur. Itu bahaya,” ucap Vita.

Karena, lanjut dia, ketika lari itu jantung kita berdegup kencang. Nah, ketika istirahat dalam kondisi suhu dingin itu bisa memicu hipotermia. Sama halnya setelah main bola lalu minum air dingin.

“Sama kalau lagi naik gunung, istirahat nggak boleh lebih dari 5 menit sebenarnya. Karena suhu badan lagi panas, terus istirahatnya lama, kan turun suhu badannya. Mau jalan lagi, itu berat banget.”

Pendaki pemula langsung naik gunung tinggi

Rahman merekomendasikan bagi pendaki pemula mulailah dengan treking gunung yang ringan dulu. Carilah kelas gunung yang hanya butuh kemampuan jalan kaki saja. Ia memberi contoh, Gunung Papandayan dan Gunung Prau, yang 3-4 jam saja sudah sampai di camp. Perlu bertahap.

“Jangan tiba-tiba yang sulit seperti Rinjani atau Semeru. Bahayanya nanti karena dia belum siap secara peralatan, secara keterampilan juga beda, maka ada risiko kelelahan berlebihan. Kaget, mountain sickness, karena terlalu cepat naik ketinggian,” ucap Rahman.

hildailhamil@gmail.com'

Leave a Reply