TopCareerID

Cara Interpreter Sampaikan Emosi Pembicara yang Marah

Profesi penterjemah. (dok. Televic Education)

Topcareer.id – Tidak hanya asal terjemahkan kata atau kalimat saja. Pekerjaan interpreter memastikan bahwa makna yang disampaikan pembicara sampai kepada pendengar. Mereka adalah jembatan antara dua bahasa yang berbeda.

Seorang interpreter harus mampu menangkap pesan dan menjaga fakta-fakta yang disampaikan pembicara, termasuk pula menyampaikannya dengan emosi yang pembicara ekspresikan saat itu. Seperti yang dikatakan oleh seorang interpreter bersertifikasi sekaligus Co-founder Makna Translation Agency, Sony Novian.

“Kalau pembicaranya marah, kami intonasinya juga meninggi. Harus begitu. Kalau pembicaranya semangat, tapi kami sayu-sayu kan nggak sampai pesannya,” kata Sony kepada Topcareer.id melalui sambungan telepon.

Baca juga: 5 Jenis Pekerjaan Penerjemah dengan Bayaran Tertinggi

Seorang interpreter, 99 persen mampu menangkap kalimat yang disampaikan pembicara, tapi menyampaikan kepada pendengar tidak dalam urutan pembicara. Intinya adalah bagaimana makna itu tetap tersampaikan. Bisa saja menyingkat kalimat, tapi tidak mengurangi makna.

Ingat, bahwa yang dipegang teguh seorang interprter adalah makna, bukan hanya menerjemahkan bahasa kalimat demi kalimat. Pun, ketika pembicara menyampaikan kata-kata yang kasar dalam penyampaiannya, interpreter juga turut menyampaikan apa adanya.

“Kami tidak bertanggung jawab tentang perasaan pendengar. Kalau pembicaranya marah-marah, pembicaranya punya tujuan dong. Kalau tujuan itu tidak tersampaikan, malah salah,” ucap Sony yang sudah belasan tahun berkecimpung di dunia interpreter ini.

Baca juga: Enam Bahasa Terlaris Bagi Pekerja Interpreter

“Misal, ada bos yang menyampaikan pesan ke karyawan ‘Eh, yang bener dong kalau kerja!’ Interpreter nggak mungkin menyampaikan ‘Bos Anda bilang harus kerja lebih keras.’ Bukan tugas kita untuk memilih mana kalimat yang bagus dan benar.”

Bahkan, Sony menyampaikan, kalau pembicara salah dalam menyampaikan sesuatu, dan interpreter tahu akan kesalahan itu, maka interpreter tidak berhak untuk membenarkan dalam penyampaiannya. Sony bilang, interpreter itu tidak boleh sok tahu.

“Kalau misal pembicara bilang, kemerdekaan RI itu 17 September 1945. Meskipun kita tahu itu salah kita tetep harus terjemahinnya 17 September 1945,” jelas Sony.

Karena menyangkut bahasa, maka kadang ada saja idiom di tiap bahasa yang berbeda tapi harus diterjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dimengerti. Bukan berarti menyampaikan apa adanay idiom yang hanya dimiliki bahasa tertentu. Pendengar bisa jadi tak akan paham maknanya.

Misalnya, kata Sony, kalau bahasa Inggris itu suka sekali mempersonifikasikan kegiatan. Sementara, untuk Indonesia ada istilah-istilah yang menginterpretasikan suatu kegiatan. Jadi, seorang interpreter harus menguasai idiom-idiom bahasa lain.

“Kalau di Indonesia kan ada tuh misal ‘Aku banting tulang nih.’ Itu nggak ada. Diganti misal ‘I work very hard,’ maknanya sama kan. Atau bersilat lidah kan nggak ada di bahasa lain. Kalau kami terjemahkan plek-plek kan nggak bisa juga.” *

Editor: Ade Irwansyah

Exit mobile version