Topcareer.id – Ya, memang bekerja secara fleksibel seolah jadi angin segar, baik bagi perusahaan maupun karyawan. Namun, untuk menjalankan sistem kerja yang fleksibel butuh rasa percaya yang tinggi. Unsur ini sebagai salah satu hal penting sekaligus kendala dalam menciptakan sistem kerja fleksibel.
Jika masih berpatokan pada cara kerja yang lama, mungkin para manajer tidak akan antusias untuk menjauhkan karyawan dari kantor. Atau malah sebaliknya, jika seorang manajer bekerja terlalu sering di rumah (di luar), timnya mungkin mulai merasa kecewa.
Berbicara kepada AM Show, Country Manager IWG New Zealand, Pierre Ferrandon mengatakan, kendala terbesar bagi pengusaha dalam sistem kerja yang fleksibel adalah dapat mempercayai staf mereka untuk menyelesaikan pekerjaan saat tidak berada di kantor yang sama dan di bawah pengawasan konstan.
Baca juga: Cara Melampiaskan Amarah dengan Profesional di Tempat Kerja
“Saya tidak melihat karyawan saya lebih dari dua atau tiga kali dalam seminggu. Saya hanya mempercayai mereka untuk bekerja,” kata Pierre dikutip dari laman News Hub.
Menurutnya, kepercayaan adalah elemen utama. Cobalah untuk bisa memberdayakan karyawan dalam memilih jam kerja mereka dan menyelesaikan pekerjaan.
Sementara itu, Asisten Komisaris Australian Taxation Office (ATO) pada kewajiban pembayar pajak individu, Justin Untersteiner mengatakan harus ada pemahaman yang jelas antara outcomes dan outputs. Menurutnya, sistem kerja fleksibel bukan berarti bebas dari duri.
“Anda perlu melatih manajer dan harus jelas dalam melakukan komunikasi. Kepercayaan adalah kunci,” kata Corey Hale, Direktur Layanan Perusahaan di Metropolitan Waste and Resource Recovery Group dalam laman In The Black. *
Editor: Ade Irwansyah