Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Saturday, August 15, 2020
redaksi@topcareer.id
Profesional

Bukan Petir, Ini yang Diwaspadai Pilot Saat Terbangkan Pesawat di Tengah Cuaca Buruk

Ilustrasi cuaca buruk

Topcareer.id – Cuaca buruk sering dijumpai pilot saat penerbangan. Meski demikian cuaca buruk tak selalu menyebabkan kecelakaan atau mempengaruhi penerbangan. Bahkan ketika sebuah pesawat yang sedang mengudara tersambar petir sekalipun tak akan membakar pesawat dan membuatnya jatuh.

“Justru bukan petir yang berbahaya, karena kini semua pesawat telah dilengkapi dengan alat penangkal petir. Kalau pun tersambar paling hanya menyebabkan gosong di bagian pesawat yang tersambar petir. Tapi ini tidak berbahaya”ungkap Pilot Citilink, Capt Agus Setiono saat ditemui Topcareer.id di kantornya.

Agus menambahkan, yang perlu diwaspadai bukan petir, melainkan awan. Dimana di dalam awan terdapat putaran-putaran angin yang bisa menyebabkan turbulensi, yang dapat menyebabkan pesawat terhempas.

Meski demikian, Agus kembali menegaskan bahwa semua pesawat telah dilengkapi teknologi yang mampu mendeteksi awan yang bisa menyebabkan turbulensi dalam radius sekian kilometer di depan pesawat. Sehingga pilot akan mampu mengantisipasi hal ini. Pilot juga akan lebih dulu memberitahu penumpang dengan mengaktifkan lampu tanda kenakan sabuk keselamatan sebelum melewati awan-awan tersebut. Selain itu pilot yang terlatih juga bakal tahu awan mana yang aman dilewati dan mana yang tidak aman.

“Penumpang wajib untuk mematuhi aturan, seperti misalnya saat lampu tanda sabuk keselamatan dinyalakan, penumpang wajib untuk memasangnya. Karena ini untuk melindungi penumpang dari benturan saat terjadi turbulensi.”ujarnya.

Sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) sebelum take off, pilot selalu dibekali informasi terkait cuaca selama penerbangan termasuk informasi potensi turbulansi serta bandara alternatif yang akan didarati bila terjadi kondisi emergensi. Namun tak menutup kemungkinan, seorang pilot akan menjumpai cuaca yang kurang ideal.

Seperti diceritakan Agus, saat terbang ke Cina, terkadang ia bertemu Thypoon. Bahkan saat musim salju misalnya, jarak pandang pun hanya nol meter.

“Ini membutuhkan skills terbang yang tinggi. Pilot dituntut untuk mampu menerbangkan pesawat sekalipun dalam jarak pandang sangat minim. Gak bisa lihat apa-apa. Tapi disana kan fasilitas bandara sudah terkalibrasi dengan baik.”ujarnya.

Sementara itu untuk di dalam negeri, tiga kota seperti Bandung, Malang, dan Manado adalah bandara yang masuk kategori c, artinya bandara-bandara tersebut lokasinya berada di antara gunung-gunung.

“Bandara-bandara itu hampir dipastikan setiap hari berawan. Oleh karena itu saat melepas kapten baru ke wilayah dengan kategori C , maka wajib didampingi instruktur atau kapten senior yang pernah terbang kesana. “Untuk di-guide bila tidak bisa mendarat escape rutenya kemana” tutur Capt Agus.

the authorRetno Wulandari

Leave a Reply