- Advertisement -
TopCareerID

Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Follow @topcareerid Instagram

SKILLS.ID

Sunday, January 26, 2020
redaksi@topcareer.id
Lifestyle

Ini Faktor Penentu Orang Belanja Online

Ilustrasi. (dok. WSJ)

Topcareer.id – Ada banyak faktor pendukung meningkatnya penjualan di Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) atau belanja online secara umum. Tak hanya kontribusi dari para pemainnya saja, seperti e-commerce, tapi juga meliputi faktor eksternal.

Faktor eksternal yang dimaksud oleh Direktur PT The Nielsen Company Indonesia, Rusdy Sumantri, yakni kecepatan dalam berselancar di internet. Dan di sana tentu harus ada dukungan aktif dari pemerintah.

“Kita lihat apa yang bisa men-drive penjualan di e-commerce, ada beberapa faktor eksternal juga. Bagaimana konektivitas internet di Indonesia. Lebih gampang lebih cepat pasti akan men-drive kenyamanan orang dalam berbelanja,” kata Rusdy kepada awak media, Kamis (5/12/2019).

Baca juga: Yuk, Ikut Workshop Cara Tingkatkan Penjualan Bisnis Online dengan Sosial Media

Menurut data yang disampaikan oleh Rusdy, pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 60 persen dari total penduduk. Sementara, Nielsen mencatat yang melakukan pembelian belanja online (saat Harbolnas) baru 55 persen dari seluruh pengguna internet pada 2018.

Rusdy mengatakan, bahwa masih ada peluang 45 persen yang belum melakukan belanja online. Ia mengestimasi di 2018, sekitar 5 juta orang yang melakukan belanja online.

Hal yang memicu orang Indonesia untuk belanja online

Menurut Rusdy, beragam promo dan voucher masih jadi hal yang membuat orang tertarik untuk melakukan belanja online. Itu bahkan jadi hal yang paling mudah dilakukan penjual atau e-commerce untuk menarik pembeli online di Indonesia.

“Indonesia price and promo masih jadi faktor yang drive trigger customer untuk membeli. Biasanya itu masuk di fase digital 1.0 dari sisi customer. Karena mereka masih bergantung pada price and promo saja,” ucap Rusdy.

Padahal, lanjutnya, di negara-negara lain potongan harga atau promo seperti itu bukan jadi hal utama pemicu kenapa orang hendak berbelanja online. Rusdy menyebut China di mana mereka lebih mengutamakan kenyamanan dalam berbelanja daripada promo atau harga yang miring.

“Price and promo tidak harus selalu menjadi faktor yang mendrive, tapi kapan beralihnya kita tidak tahu. Tergantung dari pemain, infrastuktur, kolaborasi semuanya, karena tidak bisa berjalan sendiri, termausk logistik.” *

Editor: Ade Irwansyah

hildailhamil@gmail.com'

Leave a Reply