Topcareer.id – Para siswa bidang sains, teknik, teknologi dan matematika (STEM: science, tech, engineering, math) sering tak menyadari tentang pentingnya menulis dengan baik karena mereka percaya keterampilan itu hanya untuk bidang sosial humaniora saja.
Jika menengok sistem pendidikan Sekolah Lanjut Menengah Atas (SLTA) yang mengelompokkan siswa berdasar perbedaan ilmu ini, seperti aliran bahasa, sains, dan sosial ekonomi, maka bisa berpengaruh pada kesalahpahaman tertentu.
Kesalahpahaman yang bisa terjadi, seperti mindset siswa bahwa mereka yang pandai matematika dan sains tidak kreatif. Atau siswa sosial humaniora bisa sangat kreatif membuat tulisan yang bercerita, namun tidak bisa berhitung dengan baik. Mindset itu pun akhirnya tertanam pada diri siswa.
Baca juga: Begini Cara Mahasiswa Swedia Lepaskan Stres. Yuk, Dicoba
Ya, untuk bidang sains, hal-hal terkiat percobaan, penelitian, pengatahuan teknis merupakan aspek yang paling dikejar, namun bukan berarti menempatkan kemampuan menulis di daftar paling bawah.
Padahal, dalam sebuah artikel oleh The Atlantic, Kristin Sainani, seorang Profesor Kebijakan Kesehatan di Universitas Stanford mengatakan bahwa para ilmuwan perlu tahu bagaimana menulis untuk menerbitkan karya mereka. Ini adalah keterampilan penting.
“Dalam sains, penelitian adalah raja, dan ini penting, tetapi selama dekade terakhir universitas telah mulai lebih memperhatikan ‘soft skill’ yang juga dibutuhkan para ilmuwan,” kata Kristin.
Baca juga: Mengenal Diki Suryaatmadja, Mahasiswa Termuda di Kanada
Anna Sajina, Associate Professor Atrophysics di Tufts University, dan Sergei Sazhin, Profesor Physics Thermal di University of Brighton juga menekankan pentingnya keterampilan menulis bagi para ilmuwan dan insinyur dalam sebuah artikel yang diterbitkan di Times Higher Education.
“Para ilmuwan perlu mengekspresikan studi dan laporan mereka dengan cara yang jelas, terkadang singkat, dan menarik, dan dibutuhkan keterampilan menulis yang baik untuk melakukan ini.”
Lagipula, bagaimana laporan itu dapat dibaca, menarik, dan materinya dipahami jika tidak ditulis dengan baik? Sajina dan Sazhin menulis bahwa guru harus membimbing siswa sains tentang cara menceritakan sebuah ‘kisah’ dalam laporan mereka.
Sementara beberapa program STEM memang memasukkan mata pelajaran seperti menulis teknis, tapi sayangnya sebagian besar siswa sains cenderung berpikir bahwa tulisan untuk bidang ini hanya dengan menulis hasilnya.
Baca juga: Mahasiswa Harus Bisa Menjadi Duta Frekuensi
Padahal kenyataannya, menulis adalah cara untuk mengatur pemikiran dan merupakan bagian integral dari keseluruhan proyek, menurut artikel tersebut. Laporan ilmiah atau teknis lebih dari sekadar kumpulan angka dan pernyataan yang menyertainya.
Seringkali, penelitian yang diceritakan para ilmuwan terlalu rumit atau teknis sehingga hanya beberapa ahli lain yang bisa mengerti, atau terlalu disederhanakan sehingga menyebabkan kesalahpahaman baru. *
Editor: Ade Irwansyah