Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Follow @topcareerid Instagram

SKILLS.ID

Wednesday, January 22, 2020
redaksi@topcareer.id
Tips Karier

Cara Hadapi Bos yang Sulit Diatasi

Ilustrasi. Sumber foto: work-scene.comIlustrasi. Sumber foto: work-scene.com

Topcareer.id – Jika kamu lebih deg-degan mendengar kabar si bos jatuh sakit daripada mendengar kabar kenaikan jabatan, berarti kamu berada di perusahaan yang baik dengan atasan menyenangkan. Tapi posisi seperti itu tak dialami kebanyakan pegawai.

Di banyak kantor, para pegawai mengalami kesulitan berhadapan dengan atasan yang kurang ramah. Atasan yang sikapnya terlalu dingin, sok berwibawa, dan tidak bersahabat ini yang sering bikin para pegawai panas-dingin saat harus dihadapi. Padahal, pertemuan dengan atasan hal yang wajar. Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk menghadapi situasi sulit ini?

“Kamu membutuhkan rencana keluar dari situasi seperti itu,” kata Gini Graham Scott, PhD, penulis buku A Survival Guide for Working With Bad Bosses: Dealing With Bullies, Idiots, Back-Stabbers, and Other Managers from Hell.

Baca juga: Mengatasi Turnover Tinggi dengan Exit Interview

Berikut situasi sulit yang biasa terjadi bersama atasan dan saran bagaimana mengatasinya:

Kamu bukan asisten pribadi, tapi atasan kamu terus-menerus meminta kamu mengambilkan barang pribadi.
Bagaimana mengatasinya
? Kamu pasti ingin mendiskusikan situasi ini dengan cara diplomatis dan membuat bos kamu paham, prioritas pekerjaan kamu bukanlah mengambilkan barang ini dan itu untuknya. Scott menyarankan, jangan ragu-ragu mengatakan kamu ingin mengerjakan pekerjaan prioritas, hal-hal yang berkaitan dengan proyek, dan deskripsi kerja kamu.

Yang perlu kamu ingat, permintaan bos untuk mengambilkan sesuatu yang sifatnya sangat pribadi sebenarnya mengindikasikan kepercayaan pada kamu. Selanjutnya tinggal kamu putuskan, apakah ingin membuktikan kepercayaannya atau menolaknya.

Atasan kamu sering emosional dan bicara dengan nada tinggi terhadap kamu dan pegawai lain.
Bagaimana mengatasinya?
Sekali lagi Scott menyarankan, lakukan diskusi terbuka dengan atasan. Lakukan dengan emosi yang terjaga. Jika hal ini sulit dilakukan, yang bisa kamu harapkan hanyalah koalisi dengan para korban senasib. Bukan kamu sendiri, kan yang merasakan teriakannya? Buat kesepakatan dengan teman-teman senasib sependeritaan agar saling membantu jika ada rekan yang menjadi korban “keganasan” si bos.

Baca juga: Yang Perlu Dijauhi Saat Bangun Personal Branding di Media Sosial

Kamu bersusah payah membuat konsep dan bahan presentasi sementara si bos asyik menelepon untuk urusan pribadi, tapi saat pihak manajemen memuji hasilnya dalam rapat, si bos menyatakan itu buah kerja kerasnya.
Bagaimana mengatasinya? Sangat mengesalkan jika hasil kerja keras dan ide kita dicuri orang lain, apalagi atasan sendiri. Jika telanjur, buktikan dengan perbuatan bukan perkataan. Kamu bisa mendapat kesempatan untuk mencuri balik ide ini saat merealisasikannya dalam proyek kerja nyata. Buktikan pada pihak manajemen atau siapa pun yang berhak melakukan penilaian, kamu sangat menguasai konsep proyek ini dan berikan hasil maksimal.

Atasan kamu menggoda bahkan melakukan pelecehan seksual.
Bagaimana mengatasinya? Bagi korban yang kebanyakan wanita, situasi ini sangat sulit dan membingungkan. Mereka yang mengalaminya akan diliputi perasaan marah, sedih, kesal, malu, namun sulit mengungkapkannya. Jika baru sampai pada tahap menggoda, kamu bisa langsung tegas menolak. “Katakan dengan jelas, kamu sudah memiliki hubungan dengan orang lain,” saran Scott.

Jika tak berhasil, jelaskan bahwa sikapnya membuat kamu tak nyaman. Tapi namanya atasan, kadang-kadang tak mau menerima alasan begitu saja. Jika tindakannya sudah lebih jauh dan mengarah pada pelecehan, jangan segan-segan mengadu pada rekan-rekan bahkan pihak personalia. Jangan malu jika kamu menjadi korban. Si pelakunya yang seharusnya menanggung malu.

Permohonan cuti kamu selalu ditolak.
Bagaimana mengatasinya?
Karyawan punya kewajiban bekerja, tapi punya hak meminta cuti. Tapi banyak yang tak bisa berbuat banyak karena permohonan cutinya selalu ditolak atasan dengan alasan banyak pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan. Ini berarti kamu harus lebih pandai lagi membujuk dan bernegosiasi dengan atasan. Yakinkan kepergian kamu untuk sementara waktu tidak akan menggagalkan proyek. Pastikan pula semua pekerjaan kamu tertangani dengan baik meski kamu sedang cuti.

Atasan kamu sering curhat dan meminta nasihat soal masalah pribadi.
Bagaimana mengatasinya?
Hati-hati, situasi seperti ini bisa menjadi jebakan jika kamu tak pandai-pandai menghadapinya. “Ini tentang bagaimana menciptakan batasan,” kata Scott. Memang baik kamu punya kedekatan secara pribadi dengan atasan. Tapi jika kedekatan itu sudah mulai memasuki area pribadi, kemungkinan merusak profesionalisme kerja sangat besar. Tidak selalu menanggapi curhat saat bekerja bisa menjadi langkah bijak. Jika mendesak, bolehlah di luar waktu dan tempat kerja. Biarkan urusan pribadi diselesaikan secara pribadi, di luar suasana kerja.

ade.irwansyah@gmail.com'
the authorAde Irwansyah

Leave a Reply