Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Jumat, Januari 21, 2022
redaksi@topcareer.id
Lifestyle

Alasan Ilmiah Kenapa Orang Secara Teratur Suka Berbohong

Dok. Videoblocks

Topcareer.id – Berbohong dengan alasan demi kebaikan atau agar tampak lebih jujur terdengar seperti hal aneh, tapi banyak orang yang melakukannya. Penelitian baru pun setuju akan hal tersebut. Dalam beberapa cara, berbohong itu membuat diri mereka tampak lebih jujur.

Penelitian baru yang diterbitkan oleh American Psychological Association dalam Journal of Experimental Psychology: General, bertujuan mencari tahu mengapa orang berbohong dalam beberapa situasi. Salah satu jawaban yang didapat adalah karena kebenaran yang mereka miliki terasa terlalu bagus untuk menjadi ‘benar.’

“Banyak orang sangat peduli dengan reputasi mereka dan bagaimana mereka akan dihakimi oleh orang lain. Kekhawatiran tentang tampil jujur ​​dapat melebihi keinginan kita untuk benar-benar jujur. Bahkan dalam situasi di mana kita harus mengeluarkan uang untuk berbohong,” kata Shoham Choshen-Hillel, dosen senior di The Hebrew University of Jerusalem, mengatakan dalam siaran pers.

“Temuan kami menunjukkan, ketika orang memperoleh hasil yang sangat menguntungkan, mereka mengantisipasi reaksi curiga orang lain dan lebih suka berbohong. Serta tampil jujur ​​daripada mengatakan yang sebenarnya dan tampil sebagai pembohong yang egois,” kata Choshen-Hillel dalam The Ladders.

Melalui serangkaian wawancara dengan pengacara dan mahasiswa di Israel, lalu peserta di Amerika Serikat dan Inggris, para peneliti mengatakan mereka menemukan temuan serupa di seluruh grup, yakni orang yang berbohong agar tampak lebih jujur.

Baca juga: Siang Hari, Waktu Saat Orang Cenderung Berbohong

Penelitian yang melibatkan psikolog Universitas Chicago terkemuka Alex Shaw dan UCLA’s Eugene M. Caruso, pertama kali meminta 115 pengacara di Israel untuk memberikan perkiraan klien selama 60 hingga 90 jam.

Para peneliti menemukan bahwa dari kelompok 60-jam, rata-rata peserta mengatakan mereka bekerja 62,5 jam, dengan 17% responden meningkatkan waktu kerja mereka. Dari kelompok 90 jam, responden melanjutkan dengan mengatakan bahwa mereka bekerja 88 jam. Delapan belas persen salah melaporkan jam kerja mereka.

Dalam percobaan yang melibatkan mahasiswa, 129 sarjana melakukan permainan dadu online dan permainan membalik koin secara pribadi, di mana mereka melaporkan skor mereka kepada seorang peneliti.

Sebagai insentif, peserta diberikan 15 sen untuk setiap flip yang berhasil atau koin. Para peneliti mencurangi program komputer sehingga separuh siswa menerima nilai sempurna dan separuh lainnya mendapat nilai acak.

Hasilnya menemukan bahwa 24% dari peserta dalam kelompok skor sempurna melaporkan skor mereka, sedangkan 4% melakukan hal yang sama pada kelompok acak.

“Beberapa peserta mengatasi keengganan mereka untuk berbohong dan biaya keuangan yang terlibat hanya untuk terlihat jujur ​​kepada satu orang yang melakukan percobaan,” kata Choshen-Hillel.

Tinggalkan Balasan