- Advertisement -
TopCareerID

Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Follow @topcareerid Instagram

SKILLS.ID

Tuesday, February 18, 2020
redaksi@topcareer.id
Tren

Wabah Virus Korona Mulai Melambat?

Pasien rumah sakit di Wuhan. (dok. The Straits Times)

Topcareer.id – Benarkah kini virus korona mulai melambat penyebarannya? Tidakkah sbaan waktu kita mendapat kabar virus ini kian banyak makan korban?

Lembaga Biologi Molekuler Eijkman menyampaikan bahwa ada beberapa faktor yang bisa membuat virus corona Covid-19 ini melambat pertumbuhannya dan perlahan hilang. Salah satu yang disebutkan adalah cepatnya penyebaran informasi hingga meningkatkan kewaspadaan publik.

Diketahui bahwa setidaknya ada lebih dari 60 ribu kasus virus korona atau dugaan infeksi di China dan menyebar ke seluruh dunia. Namun, sejak 4 Februari kasus terinfeksi melambat hingga 11 Februari 2020. Dari semula 3.925 kasus per tanggal 4 Februari menjadi 1.820 kasus pada 11 Februari.

Baca juga: Presiden: 62 Warga Indonesia Suspect Korona Dinyatakan Negatif

“Ini banyak faktor (kenapa melambat). Mungkin karena informasi yang begitu cepat lalu kehati-hatian orang bertambah, pakai masker dan sebagainya, travel dikurangi. Saya rasa juga eksposure berkurang, jadi itu yang bisa dikatakan melambat,” kata peneliti senior LBM Eijkman, Prof David H Muljono, Rabu (12/2/2020) kemarin.

Jika publik sudah banyak yang waspada akan bahaya virus korona, maka tingkat kesadaran akan pencegahan pun naik. Sehingga jelas, penularan-penularan akan berkurang, maka dari itu pertumbuhan virus melambat.

Namun, ketika ditanya kapan prediksi virus ini akan berhenti, Prof David menjawab bahwa semua itu tak belum bisa dipastikan mengingat informasi terkait virus secara medalam lewat penelitian masih minim.

“Kalau prediksi agak sulit ya. Tapi tentunya kalau orang-orang yang sakit berkurang, tentunya penularan makin sedikit dan hilang kemudian pelan-pelan. Di samping yang meninggal, yang sembuh kan juga makin banyak, yang nggak kena juga banyak. Saya kira ini akan hilang sendiri, epidemiologi demikian,” papar Prof David.

Baca juga: Ilmuwan Khawatir Virus Korona Bisa Berkembang Jadi Lebih Buruk

Sementara itu, menurut Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof Ari Fahrial Syam mengatakan bahwa terkadang ada virus-virus yang sifatnya sembuh lantaran tubuh bisa mengobati sendiri, seperti virus influenza.

Karena memang faktanya, kata Prof Ari, hingga saat ini belum ada obat khusus untuk mengobati virus ini. Sementara, penyembuhannya bergantung pada daya tahan tubuh pasien. Untuk itu faktor usia dan penyakit bawaan menjadi penentu kesembuhan pasien virus korona.

“Obatnya belum ada, obatnya hanya supportif aja. Kalau dia deman dikasi obat demam, kalau mungkin sesak napas dikasih untuk pernapasannya. Artinya pengobatan yang diberikan hanya suportif, nggak bisa makan dan muntah dikasihh vitamin untuk makanannya,” jelas dia. *

Editor: Ade Irwansyah

hildailhamil@gmail.com'

Leave a Reply