Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Monday, August 10, 2020
redaksi@topcareer.id
Profesional

Yang Harus Kamu Pertimbangkan Saat Hendak Kerja di Startup Baru

Dok. Minutesschool

Topcareer.id – Bekerja di perusahaan startup merupakan impian banyak orang saat ini. Tapi kamu harus jeli dalam memilih perusahaan startup atau rintisan.

Jika kamu bisa bekerja di perusahaan startup yang sudah besar, kamu tidak akan mendapat banyak masalah setelahnya. Yang perlu kamu pertimbangkan dengan matang adalah jika kamu mendapat tawaran pekerjaan di perusahaan startup yang baru dirintis.

Seperti dikutip dari Forbes.com, Selasa (18/02/2020), berikut ini alasan mengapa bekerja untuk perusahaan startup tahap awal mungkin merupakan ide yang buruk.

Baca juga: Alasan Mengapa Startup Bisa Gagal

Kamu harus bekerja ekstra keras
Tim pendiri startup yang kurang staf sering kali memberikan janji yang terlalu tinggi untuk investor dan klien. Akibatnya banyak karyawan bekerja di luar jam kerja dan kadang-kadang tetap bekerja di akhir pekan. Karyawan di startup tahap awal biasanya tidak dibayar untuk bekerja lembur. Mengeluh terhadap hal ini sering dianggap sebagai kelemahan oleh kolega dan rekan di lingkungan startup.

Posisi eksekutif dalam sebuah startup tidak ada artinya
Startup sering memberi gelar mewah kepada karyawan awal mereka, seperti CXO, presiden atau wakil presiden. Beberapa karyawan pertama sering menangani operasi, secara individu tanpa ada manajer atau analis yang melapor kepada mereka. Jabatan tinggi di startup baru yang belum besar tidak terlalu mencerminkan apapun. Akibatnya, ketika karyawan pemula tidak kuat dan resign melamar pekerjaan di perusahaan yang lebih besar, mereka jadi mulai dari posisi bawah atau tingkat menengah.

Baca juga: Perkembangan Startup di Indonesia, Sejauh Mana?

Kamu bekerja di lingkungan yang kacau
Salah satu daya tarik utama bagi karyawan startup tahap awal adalah kemampuan untuk mengambil banyak peran baru dan belajar untuk menjalankan berbagai kegiatan bisnis. Namun, suasana kacau dalam startup yang baru berdiri sering memaksa karyawan untuk memberikan tugas dalam waktu sesingkat mungkin. Akibatnya, karyawan tidak memiliki kesempatan untuk melakukan pengembangan diri dan keterampilan.

Startup tempatmu bekerja mungkin akan gagal
Lebih dari 90 persen startup pada akhirnya gagal. Ini mungkin karena kurangnya kecocokan produk di pasaran, ketidakmampuan tim pendiri untuk dengan cepat beradaptasi pada model bisnis mereka atau kurangnya dana. Bagi karyawan pemula yang ikut mendirikan startup jika startupnya gagal bisa jadi mempersulit mereka untuk mencari pekerjaan baru, karena bisa saja karyawan tersebut dinilai tidak becus oleh perusahaan baru yang dilamarnya. *

Editor: Ade Irwansyah

the authorRino Prasetyo

Leave a Reply