TopCareerID

Sakit Jantung Genetik Atau Bukan? Ini Penjelasannya

Sumber foto: Medical News Today

Topcareer.id – Fisik yang kurang aktif, terutama jarang olah raga, sering merokok, memiliki tekanan darah tinggi, diabetes, dan kolesterol tinggi memiliki risiko terkena penyakit jantung yang lebih besar daripada faktor genetik.

Menurut penelitian yang dipresentasikan pada ESC Congress 2019 lalu bersama dengan World Congress of Cardiology, perilaku sehat harus menjadi prioritas utama untuk mengurangi risiko penyakit jantung, terutama yang memiliki keluarga dengan riwayat penyakit jantung.

“Genetika adalah kontributor penting untuk penyakit jantung prematur tetapi tidak boleh digunakan sebagai alasan untuk mengatakan penyakit jantung tidak bisa dihindari,” Kata Dr Joao A. Sousa dari Funchal Hospital, Portugal.

Dalam praktik klinis, sering terdengar pasien muda datang dengan penyakit jantung prematur mencari pembelaan dengan menjelaskan riwayat genetika keluarganya. Namun, ketika melihat data dalam penelitian, pasien muda ini sering merokok, tidak aktif secara fisik, dan memiliki kadar kolesterol tinggi serta tekanan darah tinggi.

Baca juga: Makanan yang Baik untuk Menjaga Kesehatan Jantung Kamu

Dikutip dari sciencedaily.com, Jumat (21/02/2020), studi dilakukan dengan mendaftarkan 1.075 pasien di bawah 50 tahun, di antaranya 555 orang memiliki Coronary Artery Disease (CAD) atau penyakit arteri koroner.

Kondisi spesifik termasuk angina stabil, serangan jantung, dan angina tidak stabil. Usia rata-rata adalah 45 dan 87% adalah laki-laki. Tingkat faktor risiko dan genetika pada pasien dibandingkan dengan kelompok kontrol yang terdiri dari 520 sukarelawan sehat dan tidak ada riwayat genetika sakit jantung (usia rata-rata 44 tahun, dan 86% pria). Kelompok pasien dan kelompok kontrol direkrut dari database Madeira dan Coronary Disease (GENEMACOR).

Lima faktor risiko yang masih dapat diubah dari penelitian ini adalah aktivitas fisik, merokok, tekanan darah tinggi, diabetes, dan kolesterol tinggi.

Hampir 3/4 kelompok pasien memiliki setidaknya tiga faktor risiko yang masih dapat diubah dibandingkan dengan 31% dari kelompok kontrol. Pada kedua kelompok, kemungkinan CAD meningkat secara eksponensial dengan setiap faktor risiko tambahan.

Skor rata-rata lebih tinggi pada kelompok pasien daripada kelompok kontrol. Skor tersebut juga merupakan prediktor independen untuk CAD dini.

Baca juga: Studi: Stres Karena Uang Berdampak Buruk pada Kesehatan Jantung

Pada kelompok pasien dengan dua atau lebih faktor risiko kardiovaskular yang dapat dimodifikasi atau diubah, faktor genetika tidak terlalu berperan besar dalam pengembangan penyakit jantung CAD, saat faktor risiko yang dapat diubah dimodifikasi ke arah yang lebih baik.

Penelitian memberikan bukti kuat bahwa orang dengan riwayat keluarga penyakit jantung prematur harus mengadopsi gaya hidup sehat, karena perilaku buruk mereka mungkin menjadi penyumbang lebih besar untuk penyakit jantung daripada faktor genetik itu sendiri.

Exit mobile version