Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Selasa, Januari 18, 2022
redaksi@topcareer.id
Lifestyle

Studi: Stres Karena Uang Berdampak Buruk pada Kesehatan Jantung

Ilustrasi. (dok iStock)

Topcareer.id – Ya, setiap orang pasti tahu stres berakibat buruk bagi kesehatan, misal rambut rontok, bahkan terserang stroke atau serangan jantung. Ada salah satu penyebab stres yang akibatnya bisa sangat buruk untuk kesehatan jantung, bahkan 13 kali lebih berisiko daripada jenis stres lainnya. Apakah itu?

Studi yang dipresentasikan European Society of Cardiology pada Kongres Tahunan ke-18 Asosiasi Jantung Afrika Selatan mengemukakan, stres yang berasal dari masalah keuangan akan berdampak jauh lebih buruk pada kesehatan jantung kamu.

Para peneliti di sekolah kedokteran di University of the Witwatersrand, Johannesburg, menanyakan 212 sukarelawan tentang kesehatan mental mereka (termasuk depresi, kegelisahan, stres, stres kerja, dan stres keuangan).

Baca juga: Alasan Mengapa Stres Baik untuk Kamu

Satu hal yang sama dari semua subjek penelitian adalah bahwa mereka adalah pasien rumah sakit di sebuah rumah sakit besar di Johannesburg, dan 106 dari mereka baru-baru ini mengalami serangan jantung.

Setelah menghitung angka-angka, para peneliti menemukan bahwa 96 persen pasien serangan jantung melaporkan stres yang signifikan selama bulan sebelumnya, dan 40 persen di antara mereka mengalami stress yang parah.

Baca juga: Pusiiing… Ini yang Bikin Guru Stres Saat Bekerja

Stres kerja atau keuangan paling sering dikaitkan dengan risiko serangan jantung. Sementara masalah pekerjaan meningkatkan risiko jantung 5,6 kali. Jika seseorang memiliki kekhawatiran keuangan, maka ia 13 kali lebih mungkin menderita serangan jantung, dibandingkan dengan orang dengan sedikit atau tanpa stres.

“Seringkali pasien dinasihati tentang stres setelah serangan jantung, tetapi perlu ada lebih banyak penekanan sebelum suatu peristiwa. Beberapa dokter bertanya tentang stres, depresi, atau kegelisahan selama fisik umum dan ini harus menjadi praktik rutin, seperti bertanya tentang merokok,” kata penulis studi Denishan Govender, MB, BCh, seorang associate dosen.

Lebih lanjut ia mengatakan, sama halnya seperti  memberikan saran tentang cara berhenti merokok, pasien juga membutuhkan informasi tentang cara melawan stres. *

Editor: Ade Irwansyah

Tinggalkan Balasan