Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Follow @topcareerid Instagram

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Sunday, April 5, 2020
redaksi@topcareer.id
Tren

Waspada, Perkiraan Virus Korona Jadi Wabah Global Naik 40 Persen

Wabah virus korona di Wuhan. (dok. The Conversation)

Topcareer.id – Penyebaran virus korona Covid-19 yang kasusnya semakin meningkat di luar China memperbesar kemungkinan wabah ini berubah menjadi pandemik berlipat ganda. Moody’s Analytics melaporkan dari semula kemungkinannya 20 persen menjadi 40 persen menjadi pandemik dalam skala global.

Secara global, virus korona menginfeksi 80 ribu orang seluruh dunia. Sementara untuk yang di luar China, belakangan Korea Selatan menyumbang kasus banyak dalam jangka waktu yang cepat. Korsel kini memiliki 2.000 kasus virus korona. Sebanyak 90 persennya merupakan kasus baru dari Daegu.

Iran juga menjadi negara dengan jumlah kematian terbesar setelah negara asl wabah China. Iran melaporkan terdapat 26 korban meninggal dan 254 kasus penularan yang terkonfirmasi,

Baca juga: 45 Negara Terjangkit Korona, dari Jepang Hingga Denmark

“Asumsi kami sebelumnya bahwa virus itu hanya akan tersebar di China terbukti optimis, dan kemungkinan pandemi meningkat,” tulis ekonom dari cabang penelitian dan konsultasi Moody’s Corporation dalam laman CNBC.

Mereka sebelumnya memperkirakan 20% kemungkinan pandemi, yang didefinisikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai penyebaran penyakit baru di seluruh dunia.

Kumulatif yang dikonfirmasi kasus penyakit baru, juga dikenal sebagai COVID-19, melebihi 80.000 secara global, menurut data terbaru yang dikumpulkan oleh Universitas Johns Hopkins.

Tiongkok tetap menjadi negara dengan jumlah total kasus terbanyak, tetapi dalam beberapa hari terakhir, ada peningkatan jumlah kasus baru di luar daratan, termasuk di Korea Selatan, Italia, dan Iran.

Baca juga: Wabah Korona: Arab Saudi Tutup Mekkah dan Madinah bagi Warga Asing Umrah

“Kasus-kasus Korea Selatan, dikombinasikan dengan penyebaran kasus-kasus baru di Italia dan Iran, menunjukkan bahwa sementara penyebaran di China telah melambat, virus menyebar di luar China. Dan kemudahan penyebarannya dapat menjadi pertanda buruk bagi percepatan di Tiongkok ketika pekerja kembali ke pekerjaan mereka dan ketika toko-toko dan restoran mulai dibuka kembali. ”

Di bawah asumsi Moody sebelumnya bahwa virus itu akan tersebar di China saja dan sebagian besar virus akan mati sendiri pada musim semi. Para ekonom telah memproyeksikan kontraksi dalam ekonomi China pada kuartal pertama. Sementara Amerika Serikat dan ekonomi global akan mengalami perlambatan pertumbuhan.

Tetapi pandemi akan mengakibatkan resesi global dan AS selama paruh pertama tahun ini, kata para ekonom.

 “COVID-19 muncul entah dari mana. Ini mungkin yang oleh para ekonom disebut black swan, yakni peristiwa yang jarang dan inheren tidak terduga dengan konsekuensi parah,” tambah para ekonom. *

Editor: Ade Irwansyah

hildailhamil@gmail.com'

Leave a Reply