Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Follow @topcareerid Instagram

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Monday, April 6, 2020
redaksi@topcareer.id
Lifestyle

Apa Itu Penyakit Autoimun yang Sebabkan Andrea Dian Terkena Corona?

Andrea Dian. (dok. idbookmyshow)

Topcareer.id – Autoimun adalah kondisi ketika sistem kekebalan (imunitas) tubuh seseorang mengalami kekhilafan sehingga menyerang jaringan sehat. Oleh karena itu, pola yang terjadi pada autoimun sering dikatakan mirip kanker, namun ini jelas berbeda karena kerusakan jaringan sehat dilakukan oleh sel mutan.

Penyakit autoimun ini secara mengejutkan telah menyerang salah satu aktris Indonesia Andrea Dian.

Istri dari aktor sekaligus presenter Ganindra Bimo tersebut terbukti positif COVID-19 akibat autoimun yang dideritanya.

“Aku positif terinfeksi COVID-19. Melalui pesan ini aku pengin orang – orang terdekatku yang aku sayangi, dan orang-orang yang belakangan bertemu aku, bisa aware dan melakukan tindakan – tindakan pencegahan sebelum virus ini makin menyebar. Don’t worry, I’m okay,” tulis Andrea dalam caption fotonya yang diunggah pada akun instargramnya, Minggu (22/3).

Baca juga: Wabah Corona, Driver Ojol Curhat: Penumpang Sepi. Pilihannya Tertular atau Kelaparan

Awalnya Andrea menduga bahwa dirinya mengalami Demam Berdarah Dengue (DBD). Namun, saat memeriksakan diri ke rumah sakit, dirinya juga diminta untuk melakukan tes COVID-19. Dari pemeriksaan itulah didapati bahwa ia positif COVID-19.

Penderita autoimun bisa rentan terkena COVID-19. Karena kondisi medis orang dengan autoimun sangat unik. Sistem kekebalan tubuhnya justru menyerang jaringan sehat tubuhnya sendiri.

Biasanya, sistem kekebalan tubuh akan melindungi tubuh dari virus dan bakteri. Namun, jika menderita penyakit autoimun, sistem kekebalan tubuh keliru dengan melihat bagian tubuh normal sebagai sel asing.

Baca juga: Di KRL yang Padat, 96 Orang Berisiko Tertular Corona. Begini Hitungannya

Kesalahan identifikasi ini yang menyebabkan tubuh melepaskan autoantibodi, yang kemudian menyerang sel-sel sehat.

Inilah sebabnya mengapa pasien dengan penyakit autoimun berisiko lebih tinggi terinfeksi corona dan menyebabkan komplikasi yang lebih serius. Bahkan juga tidak jarang berisiko kematian.

Di Amerika, penyakit mematikan ini dialami oleh sekitar 50 juta jiwa (15,5% dari total penduduk). Dari angka tersebut, 80%-nya adalah perempuan dan anak-anak.

Oleh karena itu, autoimun dikatakan sebagai penyakit perempuan dan anak. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Bukan tidak mungkin Indonesia memiliki prevalensi yang sama dengan Amerika Serikat (15,5% dari sekitar 250 juta penduduk) yaitu hampir 40 juta jiwa.

Hal ini mendorong Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI bersama dengan Marisza Cardoba Foundation (MCF) terus melakukan upaya edukasi, pemberdayaan penyintas, serta pendataan.

Di antaranya membentuk support melalui media WhatsApp Group (WAG) dengan harapan dapat berkomunikasi intensif dengan para penyintas di seluruh Indonesia untuk meningkatkan kualitas kesehatannya.

WAG secara rutin menghadirkan para narasumber medis dan profesional untuk mengedukasi tentang autoimun dan pengendaliannya melalui penerapan Lima Dasar Hidup Sehat (LDHS).

Tentunya langkah ini diambil dengan supervisi dokter, agar secara bertahap kondisi bebas obat dengan gejala autoimun yang terkendali dapat dicapai. *

Editor: Ade Irwansyah

rinoprasetyo16@gmail.com'
the authorRino Prasetyo

Leave a Reply