Find Us on Facebook

Instagram Gallery

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Rabu, April 21, 2021
redaksi@topcareer.id
Tren

Pengaruh Cuaca dalam Penyebaran Virus Corona, Ini Kata BMKG

Ilustrasi virus corona. (dok. BBC)

Topcareer.id – Badan Mateorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta 11 ilmuwan lain di bidang meteorologi, klimatologi, dan matematika melakukan kajian tentang pengaruh cuaca dan iklim dalam penyebaran virus corona COVID-19.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menyampaikan hasil kajian kepada Presiden pada 26 Maret lalu. Kajian itu menunjukkan adanya indikasi pengaruh cuaca dan iklim dalam mendukung penyebaran COVID-19.

“Hal itu sebagaimana yang disampaikan dalam penelitian Araujo dan Naimi (2020), Chen et. al. (2020), Luo et. al. (2020), Poirier et. al (2020), Sajadi et.al (2020), Tyrrell et. al (2020), dan Wang et. al. (2020),” tulis Dwikorita melalui komunikasi online.

Baca juga: Cara Belanja Aman dari Tertular Corona Menurut Ahli Kesehatan

Hasil analisis Sajadi et. al. (2020) serta Araujo dan Naimi (2020) juga menunjukkan sebaran kasus COVID-19 pada saat wabah gelombang pertama, berada pada zona iklim yang sama, yaitu pada posisi lintang tinggi wilayah subtropis dan temparate.

“Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan sementara bahwa negara-negara dengan lintang tinggi cenderung mempunyai kerentanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara tropis,” tulis dalam rilis BMKG.

Penelitian Chen et. al. (2020) dan Sajadi et. al. (2020) menyatakan bahwa kondisi udara ideal untuk virus corona adalah temperatur sekitar 8-10° C dan kelembapan 60-90%. Artinya, dalam lingkungan terbuka yang memiliki suhu dan kelembaban yang tinggi merupakan kondisi llingkungan yang kurang ideal untuk penyebaran kasus COVID-19.

Baca juga: Wejangan dari WHO pada Pemerintah yang Berjuang Lawan Corona

Selanjutnya penelitian oleh Bannister-Tyrrell et. al. (2020) juga menemukan adanya korelasi negatif antara temperatur (di atas 1° C) dengan jumlah dugaan kasus COVID-19 per-hari. Mereka menunjukkan bahwa COVID-19 mempunyai penyebaran yang optimum pada suhu yang sangat rendah (1-9° C).

“Artinya semakin tinggi temperatur, maka kemungkinan adanya kasus COVID-19 harian akan semakin rendah.”

Lebih lanjut penelitian Wang et. al. menjelaskan pula bahwa serupa dengan virus influenza, virus corona cenderung lebih stabil dalam lingkungan suhu udara dingin dan kering. Kondisi udara dingin dan kering tersebut dapat juga melemahkan “host immunity” seseorang, dan mengakibatkan orang tersebut lebih rentan terhadap virus.

Demikian pula Araujo dan Naimi (2020) memprediksi dengan model matematis yang memasukkan kondisi demografi manusia dan mobilitasnya, mereka menyimpulkan bahwa iklim tropis dapat membantu menghambat penyebaran virus.

Kajian oleh Tim Gabungan BMKG-UGM ini menjelaskan bahwa analisis statistik dan hasil pemodelan matematis di beberapa penelilitian itu, mengindikasikan bahwa cuaca dan iklim merupakan faktor pendukung untuk kasus wabah ini berkembang pada outbreak yang pertama di negara atau wilayah dengan lintang linggi. Tapi bukan faktor penentu jumlah kasus, terutama setelah outbreak gelombang yang ke dua.

“Meningkatnya kasus pada gelombang kedua saat ini di Indonesia tampaknya lebih kuat dipengaruhi oleh pengaruh pergerakan atau mobilitas manusia dan interaksi sosial.”

Disampaikan pula, kondisi cuaca/iklim serta kondisi geografi kepulauan di Indonesia, sebenarnya relatif lebih rendah risikonya untuk berkembangnya wabah COVID-19.

Indonesia yang juga terletak di sekitar garis khatulistiwa dengan suhu rata-rata berkisar antara 27-30 derajat celcius dan kelembapan udara berkisar antara 70-95%, dari kajian literatur sebenarnya merupakan lingkungan yang cenderung tidak ideal untuk wabah COVID-19. *

Editor: Ade Irwansyah

Tinggalkan Balasan