Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Thursday, November 26, 2020
redaksi@topcareer.id
Lifestyle

Paru-Paru Jadi Organ Paling Terdampak Akibat Virus Corona

Sumber foto: Parade.com

Topcareer.id – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa COVID-19 sebenarnya dapat menyebabkan serangkaian gejala — mulai dari sakit tenggorokan hingga nyeri otot — dan penyakitnya bervariasi dalam tingkat keparahannya.

Tetapi para ahli percaya bahwa, dalam kasus yang lebih lanjut, virus corona bisa secara langsung merusak paru-paru, yang efeknya dapat berlanjut setelah seseorang pulih. Inilah yang diketahui dokter sejauh ini.

Apa yang dilakukan virus corona terhadap paru-paru?

“SARS-CoV-2 dan influenza adalah virus yang berbeda dengan perilaku dan tempat serangan yang berbeda,” jelas Reynold Panettieri, M.D., seorang spesialis paru-paru dan wakil rektor untuk kedokteran dan ilmu terjemahan di Universitas Rutgers. “SARS-CoV-2 sangat agresif menyerang saluran napas bagian atas, tenggorokan, sinus, dan rongga mulut dibandingkan dengan flu. Sebagai akibatnya, infektivitasnya lebih besar. ” Reynold menambahkan.

Baca Juga: 6 Makanan Terbaik Untuk Kesehatan Paru-Paru

Setiap infeksi corona dimulai dengan sistem pernapasan yang terinfeksi melalui tetesan yang dilepaskan ke udara ketika batuk atau bersin. Jika kamu cukup dekat dengan seseorang yang sakit, tetesan itu dapat masuk ke tubuhmu melalui mata, hidung, atau mulut.

Menurut laporan terbaru dari WHO. “Banyak kasus COVID-19 akan menjadi infeksi saluran pernapasan atas yang biasanya menyumbat paru-paru,” kata pakar penyakit menular Amesh A. Adalja, M.D., sarjana senior di Johns Hopkins Center for Health Security.

“Tetapi pada akhirnya, cara virus corona berdampak pada paru-paru sangat tergantung pada tingkat keparahan infeksi.” kata Dr. Adalja. Jika tingkat infeksi berada dalam kelompok berisiko tinggi, itu dapat menyebabkan komplikasi yang mengancam jiwa.

Infeksi ringan
Virus corona memiliki paku seperti mahkota di permukaannya, yang membantu dirinya menempel dan membajak sel-sel sehat di belakang tenggorokan atau bagian lain dari saluran napas bagian atas. “Ini akan menyebabkan gejala sakit dari leher ke atas — sakit tenggorokan, hidung tersumbat, dan sedikit demam,” kata William Schaffner, M.D., spesialis penyakit menular dan profesor di Fakultas Kedokteran Universitas Vanderbilt. Pasien-pasien ini sering dapat pulih sendiri saat mengkarantina diri sendiri di rumah.

Namun, orang dengan kasus COVID-19 yang ringan mungkin tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi. Masa inkubasi biasanya antara dua sampai 14 hari, yang berarti seseorang dapat membawa virus hingga dua minggu sebelum mereka mulai menunjukkan tanda-tanda penyakit.

Baca selanjutnya>>>>>>>>Infeksi sedang

the authorRino Prasetyo

Leave a Reply