Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Selasa, Mei 18, 2021
redaksi@topcareer.id
Lifestyle

Terus-Menerus Baca Berita Virus Corona Perburuk Kondisi Mental

Ilustrasi: Townsquare

Topcareer.id – Tak bisa dipungkiri, pandemi mengacaukan segalanya. Dan kondisi ini merupakan pandemi pertama di era internet dan media sosial, di mana pemboman berita terjadi terus-menerus.

Masuk akal memang jika kita terus ingin mengetahui informasi yang lebih jauh beserta perkembangan terbarunya.

Tetapi, sebuah studi baru-baru ini menemukan bahwa menyegarkan feed Twitter atau medsosmu setiap dua menit karena pembaruan virus corona bisa berbahaya bagi kondisi mental secara keseluruhan dan kemampuan untuk bisa tetap tenang dan terkumpul.

Ketika penyakit menular baru dan misterius muncul di panggung dunia, ada fakta-fakta yang tidak dapat dibuktikan secara inheren. Jadi, ketika kita menghabiskan sepanjang hari membaca dugaan, prediksi, dan pendapat, semua artikel itu tidak membuat kita merasa lebih tahu.

Mereka justru benar-benar melakukan sebaliknya. Semakin banyak berita yang dibaca, semakin tidak pasti dan tidak nyaman perasaan kita tentang keseluruhan situasi.

Baca juga: Bijak Membeli Perlengkapan Mandi di Masa PSBB Covid-19

Penelitian yang dilakukan di Ohio State University, berfokus pada virus Zika. Namun, penulis mengatakan temuan mereka tetap berlaku untuk siklus berita virus corona.

“Virus Zika dan virus corona memiliki kesamaan yang penting,” jelas Shelly Hovick, rekan penulis studi dan asisten profesor komunikasi di The Ohio State University, dalam siaran pers.

“Dalam kedua kasus, mereka diselimuti ketidakpastian dan telah menerima banyak perhatian media. Penelitian kami melihat bagaimana orang mencari dan memproses informasi ketika ada begitu banyak ketidakpastian,” kata dia, dikutip dari The Ladders.

Peserta dalam penelitian yang menilai diri mereka “sangat berpengetahuan” tentang virus Zika juga kemungkinan besar percaya bahwa mereka tidak cukup tahu.

“Kami mendapati bahwa semakin banyak orang mengira mereka tahu, semakin mereka sadar bahwa mereka tidak cukup tahu,” kata pemimpin penelitian Austin Hubner, seorang mahasiswa doktoral bidang komunikasi di Ohio State.

“Dengan virus Zika, bahkan para ahli itu sendiri tidak tahu banyak pada saat itu. Itu hal yang sama yang kita lihat dengan virus corona, dan itu menakutkan bagi orang-orang yang percaya bahwa mereka berisiko.”

Baca juga: Denda Rp 1 Miliar Menanti Para Penyebar Hoaks Covid-19

Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2016, di antara 494 penduduk Florida usia subur. Florida digunakan pada saat itu karena menyumbang jumlah tertinggi kasus Zika yang ditransmisikan secara lokal di Amerika Serikat.

Survei ini dilakukan dengan bertanya kepada responden tentang tingkat pengetahuan mereka soal virus Zika; sikap umum mereka tentang mencari berita; bagaimana mereka memproses apa yang mereka baca tentang Zika; dan rencana mereka untuk tetap mendapat informasi terbaru.

“Risiko baru seperti Zika atau virus corona dapat membuat beberapa orang bereaksi berbeda dari risiko terkenal seperti kanker atau flu. Bahkan jika data menunjukkan seseorang berisiko rendah, kurangnya informasi dapat membuat beberapa orang merasa mereka berisiko tinggi,” kata Hovick.

Studi ini juga menghasilkan sejumlah kesimpulan tambahan, dengan satu kesimpulan bahwa orang lebih cenderung mencari berita tentang penyakit baru jika mereka merasa diduga oleh rekan-rekan mereka.

Editor: Feby Ferdian

Tinggalkan Balasan