Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Monday, September 21, 2020
redaksi@topcareer.id
Tren

3 Penyebab Anak-Anak Tertekan saat Belajar di Rumah

Sumber foto: augustineenglishclasses.com

Topcareer.id – Menyebarnya virus corona di Indonesia, membuat pemerintah mengambil kebijakan dengan meminta seluruh masyarakat menjalankan semua aktivitas dari rumah saja. Termasuk belajar, bekerja dan beribadah.

Bukannya senang, anak-anak sekolah yang belajar dari rumah justru mengalami tekanan mental dan bahkan lebih memilih untuk tetap ke sekolah. Hal ini diungkapkan oleh Psikolog Seto Mulyadi.

“Dari laporan Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), saat ini banyak anak-anak yang mengalami stres, tertekan,” ujar pria yang akrab disapa Kak Seto dalam konferensi, di Kantor BNPB, Jakarta, Sabtu (25/4/2020).

Baca juga: Sisi Positif Selama Pandemi Corona. Adakah?

Kak Seto membeberkan, ada 3 hal yang menjadi pemicu stres selama melangsungkan kegiatan belajar di rumah. Salah satunya adalah cara orang tua yang berperan sebagai guru, dalam mengajarkan materi pelajaran pada anaknya.

“Para orang tua sekarang harus menjadi guru tiba-tiba di dalam rumah, dan kemudian mencoba untuk menjelaskan, menerangkan dan terkadang memaksakan hal-hal itu harus dicapai oleh putra-putrinya. Sehingga yang muncul adalah anak-anak tertekan,” jelasnya.

Selain itu, banyak anak-anak yang mengisi sebagian waktu kosongnya dengan bermain gadget. Penggunaan gadget tanpa pengawasan dapat berakibat pada kesehatan mental.

“Apa yang dilihat anak-anak pada gadget, kadang juga nuansanya juga penuh kekerasan. Ada kekerasan sesuatu yang mengerikan, mungkin pornografi, dan kadang-kadang juga kekerasan seksual melalui media daring,” tambahnya.

Baca juga: Kegiatan Positif di Akhir Pekan yang Baik Bagi Tubuh, Apa Saja?

Kak Seto menambahkan, orang tua yang merokok juga dapat berakibat negatif. Paparan dari nikotin yang tersebar di berbagai peralatan rumah tangga akan berdampak negatif pada kesehatan anak-anak.

Editor: Feby Ferdian

the authorSherley Agnesia

Leave a Reply