Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Saturday, September 26, 2020
redaksi@topcareer.id
Profesional

Usai Pandemi, Sesama Rekan Kerja Bisa Menjadi Lebih Dekat

Ilustrasi kantor milenial. Sumber foto: Parade.comIlustrasi kantor milenial. Sumber foto: Parade.com

Topcareer.id – ‘Dipaksa’ kerja dari rumah karena pandemi, otomatis juga dipaksa untuk mengurangi komunikasi tatap muka langsung dengan rekan kerja. Masa-masa ini mungkin seperti masa perenungan diri akan betapa berharganya untuk terus menjaga komunikasi dengan rekan kerja.

Jika ada satu titik terang tentang bagaimana pandemi akan berdampak pada masa depan pekerjaan, salah satunya yakni bisa memperkuat hubungan pribadi yang kita bentuk dengan rekan kerja.

“Untuk waktu yang lama, kita mungkin acuh tak acuh kala melihat rekan kerja setiap hari, dan mungkin tidak menyadari betapa berharganya itu,” kata Lakshmi Rengarajan, konsultan koneksi tempat kerja yang sebelumnya dari WeWork and Match.com.

“Saya pikir tim akan jauh lebih dekat ketika mereka dapat kembali ke tempat kerja (usai pandemi),” lanjutnya, dikutip dari CNBC.

Psikolog organisasi, profesor Wharton, dan penulis “Originals” Adam Grant setuju akan hal ini. Dia memperkirakan bahwa ketika rekan kerja kembali ke kantor, mereka akan membuang kebiasaan berkirim pesan dan benar-benar sadar pentingnya mengunjungi satu sama lain secara langsung.

“Mungkin akan ada lebih sedikit makan siang di meja yang menyedihkan,” katanya.

Persahabatan di tempat kerja dapat berkembang di antara rekan-rekan yang saling mengandalkan satu sama lain selama pandemi dan mengenal satu sama lain pada tingkat yang lebih pribadi. Tetapi meskipun ada interaksi langsung antar rekan, jabat tangan sepertinya akan jadi hal yang asing.

Gugus Tugas Koronavirus Gedung Putih, Anthony Fauci baru-baru ini menyarankan bahwa berjabat tangan harus dihentikan bahkan ketika pandemi berakhir, dan para pakar kesehatan lainnya setuju.

Rengarajan mengatakan gerak tubuh yang bisa menyampaikan keramahan dan rasa hormat dari kejauhan, seperti anggukan atau senyum, bisa menjadi norma sosial.

“Mungkin ini kebangkitan kekuatan kontak mata atau mendengarkan,” kata Rengarajan.

Editor: Feby Ferdian

Leave a Reply