TopCareerID

Staf Rumah Sakit yang Sembuh dari Covid-19 Miliki Antibodi Cegah Serangan Berulang?

Ilustrasi: Liputan6.com

Ilustrasi: Liputan6.com

Topcareer.id – Sebuah penelitian baru mengklaim bahwa staf rumah sakit yang terinfeksi virus corona ringan akan mengembangkan antibodinya sendiri yang dapat mencegah infeksi ulang.

Penelitian ini dilakukan pada staf rumah sakit, termasuk dokter dan perawat, yang telah pulih dari gejala Covid-19 yang ringan di Prancis.

Menurut Institut Pasteur dan rumah sakit universitas di Strasbourg, temuan awal menunjukkan bahwa semua 160 sukarelawan kecuali satu orang mengembangkan antibodi dalam waktu 15 hari setelah dimulainya infeksi.

Baca juga: Uji Lab pada Hamster Membuktikan Pakai Masker Kurangi Penularan Virus Corona

Penelitian yang diterbitkan dalam medrxiv non-peer-review mengklaim bahwa antibodi terhadap virus SARS-CoV-2 terdeteksi di hampir semua staf rumah sakit.

Penelitian yang berjudul ‘tanggapan serologis terhadap infeksi SARS-CoV-2 di antara staf rumah sakit dengan penyakit ringan di Perancis timur’ melaporkan bahwa antibodi penetralisir (Neutralising Antibody atau NAB) terdeteksi pada 98 persen sampel yang dikumpulkan selama 28-41 hari setelah serangan awal Covid-19.

Para peneliti yang terlibat mencatat temuan ini untuk mendukung penggunaan tes serologis pada diagnosis individu yang telah pulih dari infeksi SARS-CoV-2. Aktivitas penetralan antibodi meningkat dari waktu ke waktu.

Baca juga: (in-depth) Kala Vaksin Corona Tersedia, Apa Orang Kaya Bakal Dapat Lebih Dulu?

Untuk penelitian ini, staf rumah sakit yang telah pulih dari bentuk ringan infeksi PCR yang dikonfirmasi diuji untuk antibodi anti-SARS-CoV-2 menggunakan dua tes yaitu: tes imunodiagnostik cepat dan uji S-Flow. Aktivitas penetralan serum (darah) diuji dengan uji berbasis pseudovirus.

Temuan ini dapat membantu para ilmuwan untuk lebih memahami Covid-19, termasuk apakah orang yang telah pulih dari infeksi coronavirus akan mengembangkan antibodi terhadap virus.

Disimpulkan bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk membantu menilai persistensi respon humoral dan kapasitas netralisasi terkait pada pasien Covid-19 yang pulih.

Saat ini belum ada pengobatan khusus atau vaksin untuk penyakit virus corona, meskipun para ilmuwan di seluruh dunia bekerja tanpa henti untuk menemukan obat untuk menaklukan virus ini yang hingga kini telah merenggut nyawa lebih dari 350 ribu orang di seluruh dunia. *

Editor: Ade Irwansyah

Exit mobile version