Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Monday, September 21, 2020
redaksi@topcareer.id
Tren

(in-depth) Kala Vaksin Corona Tersedia, Apa Orang Kaya Bakal Dapat Lebih Dulu?

Ilustrasi. (dok. Global Times)

Topcareer.id – Kita sepatutnya menerima kenyataan: harus hidup berdampingan dengan virus corona. Kehidupan kita akan benar-benar normal seperti sebelum awal Maret 2020–ketika pasien covid-19 pertama kali diumumkan pemerintah–sampai ditemukan obat dan vaksin yang efektif membasmi corona.

Para ahli dan ilmuwan rata-rata sepakat mengatakan vaksin baru tersedia setahun hingga 18 bulan lagi. Presiden AS Donald Trump sesumbar vaksin corona bakal tersedia akhir tahun ini.

Entah enam bulan, setahun, atau satu setengah tahun lagi, bukan berarti perkaranya selesai begitu saja. Itu hanya waktu pembuatan. Bagaimana vaksin diberikan pada manusia belum dihitung waktunya.

Bisa kita bayangkan betapa rumitnya pendistribusian vaksin bagi seluruh penduduk Bumi. Bahkan bisa menyebabkan masalah politik dan sosial.

Pertanyaan yang segera mengemuka begitu vaksin corona tersedia adalah, bagaimana memberi vaksin pada seluruh penduduk dunia yang berjumlah 7,5 miliar? Bagaimana memproduksi dan mendistribusikan miliaran vaksin? Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memvaksin semua orang?

Dan terutama… siapa yang divaksin lebih dahulu?

Orang-orang berusia di atas 45 tahun yang rentan, mereka yang mengidap penyakit bawaan atau bayi yang baru lahir hingga balita? Apa si fulan yang hidup bergelimang harta bakal dapat vaksin duluan ketimbang warga pemukiman kumuh dan pelosok desa nan jauh?

Baca juga: Melinda Gates: Jika Beruntung, Vaksin Covid-19 Ditemukan Akhir Tahun

Bila vaksin yang efektif ditemukan lebih dulu di negara maju seperti di Eropa, AS atau China, apa penduduk sana bakal divaksin lebih dulu dan baru kemudian ke negara berkembang dan miskin di Asia dan Afrika

Bagaimana dengan kita di Indonesia? Apakah kita menggunakan vaksin corona bikinan anak negeri sendiri atau mengimpor dari luar negeri?

Jika harus diimpor karena kita tak punya vaksin corona, bakal tambah persoalan lagi. Negara pembuat vaksin tentu akan mendahulukan warganya. Sementara itu negara-negara lain yang tak punya vaksin juga tentu menginginkan segera memvaksin rakyatnya masing-masing. Di situ lantas pemintaan pada pemasok vaksin akan sangat tinggi. Harganya juga mungkin akan selangit. Sanggupkah kita membelinya? Dan selain itu, bisakah kita menunggu pasokan vaksin tersedia sementara virus terus menyebar dan makan korban?

Dari sini juga muncul pertanyaan lain lagi yang akan mempengaruhi setiap individu. Kelak, siapa yang membiayai pemberian vaksin? Apa setiap orang bakal dapat vaksin gratis dari negara atau harus bayar sendiri dan minta divaksin di rumah sakit?

Untuk melihat bagaimana gambaran pemberian vaksin bagi seluruh populasi manusia kita bisa menyimak bagian sepertiga terakhir film Contagion (2011). Film karya Steven Soderbergh itu mengisahkan pandemi global virus MEV-1, virus fiktif yang mirip SARS yang menyerang tahun 2003 serta corona.

Adegan film Contagion (2011).

Di situ diceritakan, virus baru bisa ditaklukkan saat vaksin ditemukan. Di sana kita menyaksikan, untuk memberi vaksin pada seluruh warga Amerika membutuhkan waktu setahun. Caranya dimulai dengan mengundi tanggal lahir. Di Contagion, pemberian vaksin dimulai dari warga yang lahir 10 Maret.

Selain itu ada cerita lain lagi. Gara-gara vaksin, ilmuwan WHO diculik dan sang penculik minta sejumlah vaksin untuk ditukar dengan sandera. Ada pula, rumah pegawai CDC (Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit) AS disatroni perampok yang hendak merampas vaksin.

Keruwetan dan kerawanan sosial seperti itu bukan tak mungkin terjadi setahun atau satu setengah tahun lagi dari sekarang.

Cari tahu lebih jauh di halaman berikutnya>>

the authorAde Irwansyah

Leave a Reply