Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Tuesday, July 7, 2020
redaksi@topcareer.id
Tren

Imbas Pandemi, Nissan Tutup Pabrik di Spanyol dan Indonesia

Pabrik Nissan. (dok. CAR Magazine)

Topcareer.id – Perusahaan pembuat mobil asal Jepang, Nissan, berencana menutup pabrik mobil di Barcelona, Spanyol dan Indonesia setelah merugi untuk pertama kalinya dalam 11 tahun karena pandemi menekan permintaan global dan mengganggu produksi.

Kepala eksekutif Nissan yang berbasis di Yokohama, Makoto Uchida, mengatakan pada Kamis (28/5/2020) lalu bahwa produksi Eropa akan dipusatkan di pabrik Inggris di Sunderland.

Sementara itu, kata dia, pabrikan yang sekarang berbasis di Indonesia akan pindah ke Thailand, karena pabrikan Jepang memangkas produksi global sebesar 20%.

Dikutip dari laman Time, Nissan Motor Co melaporkan kerugian 671,2 miliar yen, atau USD6,2 miliar, atau sekira Rp90 triliun untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret, kerugian tahunan pertama sejak 2009, setelah krisis keuangan global.

Baca juga: Ini Efek Corona pada Dunia Otomotif

Perusahaan melaporkan laba 319,1 miliar yen pada tahun fiskal yang berakhir pada bulan Maret. Dikatakan produksi kendaraan global turun 62% pada April dari tahun sebelumnya menjadi 150.388 kendaraan. Penjualan kendaraan global merosot hampir 42% bulan lalu.

Penjualan Nissan untuk tahun fiskal yang berakhir Maret merosot hampir 15%, menjadi 9,9 triliun yen (USD 91,6 miliar).

“Masa depan masih belum jelas dan sangat sulit untuk diprediksi,” kata Uchida, yang mengakui Nissan belum bisa memberikan proyeksi keuangan untuk tahun fiskal saat ini.

Tetapi Uchida mengatakan Nissan telah mendapatkan pembiayaan yang dibutuhkan dan memangkas biaya dan membentuk kembali operasinya untuk mengembalikan profitabilitas, menekankan bahwa potensi Nissan tetap solid.

Pembuat mobil, pencipta mobil listrik Leaf, X-Trail sport utility vehicle dan model-model mewah Infiniti, berniat membangun kekuatan intinya, kata Uchida.

Ini mengurangi jumlah modelnya dan berfokus pada area geografis tertentu, seperti Jepang, China dan Amerika Serikat, untuk meningkatkan efisiensi dan profitabilitas, daripada mengejar ukuran penjualan.

“Kami akan mengakui kesalahan kami di masa lalu dan mengarahkan ke masa depan dengan cara yang benar, tanpa ragu-ragu,” kata Uchida. *

Editor: Ade Irwansyah

Leave a Reply