Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Saturday, July 4, 2020
redaksi@topcareer.id
Tren

2020 Diprediksi jadi Tahun Terpanas

Sumber foto: Carlos L Vives/Alamy

Topcareer.id – Menurut para ahli meteorologi dunia, tahun ini menjadi yang terpanas di dunia sejak pencatatan rekor dimulai empat tahun lalu. Ada kemungkinan 50%-75% bahwa tahun 2020 akan memecahkan rekor.

Meskipun lockdown akibat pandemi virus corona untuk sementara waktu sempat membersihkan langit, ini tidak melakukan apa pun untuk mendinginkan iklim. Ya, Para ilmuwan menyebutkan, dibutuhkan langkah-langkah yang lebih dalam di jangka panjang untuk memengaruhi iklim. Bukan cuma sekadar diam di rumah.

Catatan panas telah dipecah dari Antartika ke Greenland sejak Januari 2020, yang telah mengejutkan banyak ilmuwan karena ini bukan tahun El Nino–fenomena yang biasanya dikaitkan dengan suhu tinggi.

Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat juga turut menghitung ada kemungkinan 75% bahwa 2020 akan menjadi tahun terpanas sejak pengukuran dimulai.

Baca juga: Terasa Amat Panas dan Gerah Akhir-akhir Ini? Ini Penjelasan BMKG

Sebuah perhitungan terpisah oleh Gavin Schmidt, direktur Institut Goddard NASA untuk Studi Luar Angkasa di New York, menemukan peluang 60% bahwa tahun ini akan mencetak rekor.

Kantor cuaca Met Office di Inggris lebih berhati-hati. Mereka memperkirakan kemungkinan 50% bahwa 2020 akan menetapkan rekor baru. Cuaca abnormal semakin menjadi normal karena catatan suhu turun dari tahun ke tahun, dan bulan demi bulan.

Januari 2020 ini adalah rekor terpanas, telah membuat negara Arktik menjadi tanpa salju. Pada bulan Februari lalu sebuah pangkalan penelitian di Antartika melaporkan suhu lebih dari 20 derajat Celsius untuk pertama kalinya di benua selatan. Di ujung lain dunia, Qaanaaq di Greenland, menetapkan rekor bulan April dengan suhu 6 derajat Celsius.

Pada kuartal pertama, pemanasan paling terasa di Eropa timur dan Asia, di mana suhu 3 derajat Celsius lebih panas di atas rata-rata. Pusat kota Los Angeles juga mencapai suhu terpanas pada April lalu lewat 34 derajat Celsius. Begitu pula dengan Australia Barat yang ikut mengalami rekor panas.

Baca juga: Jadi, Apa Bakteri dan Virus Bakal Mati Karena Cuaca Panas atau Dingin?

Karsten Haustein, seorang ilmuwan iklim di Universitas Oxford, mengatakan pemanasan global mendorong lebih dekat ke 1,2 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri.

Dia mengatakan, pelacak daringnya menunjukkan tingkat pemanasan 1,14 derajat Celsius yang relatif konservatif karena kesenjangan dalam data, tetapi ini bisa naik 1,17 derajat Celsius atau lebih tinggi setelah angka terbaru dimasukkan.

Meskipun pandemi setidaknya telah sementara mengurangi jumlah emisi, dia mengatakan penumpukan gas rumah kaca di atmosfer tetap menjadi masalah besar.

“Krisis iklim terus berlanjut. Emisi akan turun tahun ini, tetapi konsentrasinya terus meningkat,” kata Haustein.

“Kami sangat tidak mungkin melihat adanya penurunan tingkat GRK atmosfer. Tetapi kami memiliki kesempatan unik sekarang untuk mempertimbangkan kembali pilihan kami dan menggunakan krisis virus corona sebagai katalis untuk sarana transportasi dan produksi energi yang lebih berkelanjutan, melalui insentif, pajak, harga karbon dan lain-lain.”

Editor: Feby Ferdian

the authorRino Prasetyo

Leave a Reply