TopCareerID

Perekonomian Selandia Baru Alami Penurunan Terbesar dalam 3 Dekade

Sumber foto: US News

Topcareeer.id – Ekonomi Selandia Baru menyusut 1,6% pada kuartal Maret, efek dari pandemi virus corona. Itu merupakan penurunan terbesar dalam 29 tahun dan penurunan kuartal pertama sejak Desember 2010.

Kontraksi itu bahkan lebih buruk dari perkiraan ekonom, yakni penurunan 1,0%, tetapi lebih kecil dari proyeksi bank sentral yang memperkirakan penurunan 2,4%.

Baca juga: Tingkat Pengangguran di Asia Pasifik Diperkirakan Naik Berlipat Ganda

Menteri Keuangan Selandia Baru, Grant Robertson mengatakan, penurunan diperkirakan akan semakin dalam pada kuartal saat ini karena pembatasan ketat pada bulan April dan Mei.

Itu akan menempatkan Selandia Baru dalam resesi teknis pertamanya, yang didefinisikan sebagai kontraksi dua kuartal berturut-turut, sejak 2010, meskipun pelonggaran pembatasan baru-baru ini diperkirakan akan membantu pemulihan.

“Sekarang, fokus kami adalah melindungi pekerjaan, mendukung ekonomi untuk pulih, dan membangun kembali melalui investasi yang dibuat dalam Anggaran 2020, Dana Respons, dan Pemulihan Covid-19. Dengan membuka ekonomi lebih cepat dari perkiraan, kita sudah memulai pemulihan kita,” kata Robertson, dikutip dari CNBC.

Penurunan 1,6% adalah penurunan kuartalan terbesar sejak kuartal Maret 1991. PDB berbasis produksi tahunan turun 0,2% dibandingkan dengan perkiraan kenaikan 0,3% dalam jajak pendapat Reuters.

Baca juga: Usai Lockdown, Pemesanan Sewa Kamar Secara Global Melonjak 127 Persen, Pertanda Apa?

Ekonom telah memperingatkan data mungkin tidak sepenuhnya menangkap sejauh mana dampak ekonomi dari lockdown yang dirancang untuk membatasi penyebaran virus corona.

“Kami saat ini melihat bouncing pasca-lockdown dalam aktivitas, tetapi efek resesi yang lebih tahan lama dari krisis ini akan ditentukan oleh di mana tren menetap setelah itu,” kata Ekonom Senior ANZ Liz Kendall.

Selandia Baru salah satu di antara segelintir negara yang telah selesai dari pandemi virus corona. Kesuksesan ini sebagian besar terjadi karena penguncianketat yang memaksa hampir semua orang untuk tinggal di rumah, kecuali bisnis-bisnis penting.

Editor: Feby Ferdian

Exit mobile version