Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Monday, September 28, 2020
redaksi@topcareer.id
Lifestyle

Terlalu Lama Menahan Emosi Bisa Sebabkan Gangguan Kesehatan dan Penyakit Mental

Ilustrasi. Sumber foto: oneemotion.caIlustrasi. Sumber foto: oneemotion.ca

Topcareer.id – Banyak orang sejak kecil diajarkan untuk menahan amarah. Ini baik agar seseorang bisa menjadi pribadi yang penyabar dan penyayang.

Namun budaya menahan emosi ini bisa positif maupun negatif. Beberapa orang mungkin menganggap ini sebagai perilaku yang baik, yang lain sebagai tanda kekakuan dan pengekangan tidak alami.

Dalam kasus apa pun, para peneliti memperingatkan bahwa penindasan emosi agar tidak dikeluarkan memang tidak berbahaya tetapi dapat menyebabkan masalah kesehatan mental dan fisik yang serius dan bahkan kematian dini.

Baca juga: Ilmuwan: COVID-19 Bisa Picu Trauma Emosional Skala Global

Satu studi yang dilakukan oleh psikolog dari Harvard School of Public Health dan University of Rochester menemukan bahwa menekan emosi dapat meningkatkan risiko kematian akibat penyakit jantung dan beberapa jenis kanker. Ini mengkonfirmasi studi sebelumnya yang mengaitkan emosi negatif seperti kemarahan, kecemasan, dan depresi dengan perkembangan penyakit jantung.

Risiko kesehatan terlihat meningkat ketika orang tidak memiliki cara untuk mengekspresikan atau bertindak berdasarkan perasaan mereka, kata para peneliti.

Semua orang tahu bahwa stres dapat menumpuk dan menjadi kronis ketika respons “melawan” atau “lari” alami yang dimaksudkan untuk membantu bertahan dalam situasi konflik berubah menjadi frustrasi. Demikian pula efek yang merugikan dapat terjadi ketika emosi negatif tetap tidak diekspresikan.

Beberapa ahli menyarankan bahwa mengenali emosi terutama yang menyakitkan dan melepaskannya dari waktu ke waktu adalah komponen penting dari kesehatan mental.

Baca juga: Anak Pemalu Sulit Baca Emosi Orang

Kemarahan dan kesedihan adalah bagian penting dari kehidupan, dan penelitian baru menunjukkan bahwa mengalami dan menerima emosi semacam itu sangat penting bagi kesehatan mental kita. Mencoba menekan perasaan dan pikiran dapat menjadi bumerang.

Individu dengan vitalitas emosi yang besar memiliki risiko yang jauh lebih rendah terkena penyakit jantung dibandingkan dengan yang kurang ekspresif secara emosional, menurut Dr. Laura Kubzansky, seorang profesor kesehatan manusia dan pengembangan di Sekolah Kesehatan Publik Harvard dan penulis utama laporan penelitian.

Bagian penting dari kesejahteraan emosional adalah kemampuan seseorang untuk menciptakan dan memelihara lingkungan yang kondusif di mana berbagai kebutuhan dipenuhi dan tubuh, pikiran, serta jiwa terpelihara. *

Editor: Ade Irwansyah

the authorRino Prasetyo

Leave a Reply