TopCareerID

Delta Air Lines Bukukan Kerugian Bersih Rp 83,1 Triliun pada Kuartal II

Ilustrasi (dok. Travel Update)

Topcareer.id – Delta Air Lines membukukan kerugian bersih USD 5,7 miliar atau sekitar Rp 83,2 triliun (1USD=Rp 14.576) pada kuartal II, terbesar sejak 2008.

Delta saat ini mengurangi separuh jumlah penerbangan yang rencananya ditambahkan bulan depan karena pandemi menguras permintaan perjalanan.

Dikutip dari laman CNBC, Delta Air Lines memperkirakan pendapatan kuartal ketiga tidak lebih dari seperempat dibanding tahun lalu, ketika menghasilkan USD 12,56 miliar. Saham Delta turun 2,7% menjadi USD 26,11.

Maskapai yang bermarkas di Atlanta itu berencana menambah 1.000 penerbangan sehari pada Agustus, tetapi sekarang hanya akan menambah 500.

Baca juga: Delta Airlines Peringatkan Lebih dari 2.500 Pilot soal Kemungkinan Cuti

Menurut eksekutif, permintaan melemah ketika kasus baru virus corona dan negara-negara seperti New York memberi tahu para pelancong yang tiba untuk dikarantina dalam upaya menghentikan penyebaran penyakit.

“Permintaan telah terhenti karena virus telah bertambah kembali, khususnya di Selatan, di seberang Sun Belt, ditambah dengan langkah-langkah karantina yang terjadi di banyak negara bagian Utara. Kedua faktor itu menyebabkan konsumen berhenti,” kata CEO Delta, Ed Bastian.

Kesulitan perjalanan bisnis

Bastian mengatakan, perjalanan bisnis, yang biasanya membawa sekitar setengah dari pendapatan Delta belum kembali. Ia mengingatkan bahwa dia tidak berharap bahwa industri ini akan kembali sepenuhnya seperti tahun 2019 pada volume lalu lintas bisnis.

“Saya pikir ada banyak inefisiensi, yang bisa kita hargai dalam perjalanan bisnis,” kata dia.

Bastian juga menambahkan bahwa kunjungan pelanggan, konferensi, dan pembangunan hubungan tidak dapat digantikan dengan panggilan telepon.

Baca juga: Wabah Corona, Maskapai Penerbangan Dunia Bingung Parkir Pesawat

Delta memangkas pembakaran uang hariannya menjadi USD 27 juta pada akhir Juni, dari sekitar USD 100 juta per hari pada akhir Maret.

Maskapai ini mengatakan ingin mencapai titik impas pada akhir tahun, serta dikabarkan memiliki 19 bulan likuiditas dan memiliki USD 15,7 miliar pada akhir kuartal.

Maskapai penerbangan adalah salah satu industri yang paling terpukul oleh pandemi karena kekhawatiran akan virus dan serangkaian pembatasan perjalanan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Editor: Feby Ferdian

Exit mobile version