Topcareer.id – Vaksin potensial virus corona yang dikembangkan oleh Universitas Oxford bersama raksasa farmasi AstraZeneca telah menghasilkan respons kekebalan yang menjanjikan dalam uji coba manusia tahap awal yang besar, menurut data yang baru dirilis dalam jurnal medis The Lancet.
Para peneliti menyebut vaksin eksperimental mereka ChAdOx1 nCoV-19 (AZD1222). Ini menggabungkan bahan genetik dari virus corona dengan adenovirus yang dimodifikasi yang diketahui menyebabkan infeksi pada simpanse. Uji coba fase satu memiliki lebih dari 1.000 peserta pada orang berusia 18 hingga 55 tahun.
Dikutip dari CNBC, para peneliti mengatakan vaksin itu menghasilkan antibodi dan sel-T pembunuh untuk memerangi infeksi yang berlangsung setidaknya dua bulan.
Antibodi netralisasi, yang menurut para ilmuwan penting untuk mendapatkan perlindungan terhadap virus, terdeteksi pada peserta. Respon sel T tidak meningkat dengan dosis kedua vaksin, kata mereka, yang konsisten dengan vaksin lain dari jenis ini.
Baca Juga: Vaksin Penangkal Corona akan Rampung 2021
“Sistem kekebalan tubuh memiliki dua cara untuk menemukan dan menyerang pathogen, respon antibodi dan sel T,” kata profesor Oxford Andrew Pollard dalam rilisnya, Senin (20/7/2020).
“Vaksin ini dimaksudkan untuk menginduksi keduanya, sehingga dapat menyerang virus ketika beredar di dalam tubuh, serta menyerang sel yang terinfeksi. Kami berharap ini berarti sistem kekebalan tubuh akan mengingat virus, sehingga vaksin kami akan melindungi orang untuk jangka waktu yang lama.”
Vaksin tersebut ditoleransi dengan baik dan tidak ada efek samping yang serius, menurut para peneliti. Kelelahan dan sakit kepala adalah yang paling sering dilaporkan, kata mereka. Efek samping umum lainnya termasuk rasa sakit di tempat suntikan, sakit otot, kedinginan dan demam.
Baca Juga: Indonesia Siap Uji Klinis Tahap 3 Vaksin Covid-19 dari Sinovac
Adrian Hill, direktur Oxford’s Jenner Institute, mengatakan bahwa respon kekebalan yang kuat berarti vaksin lebih mungkin untuk memberikan perlindungan terhadap virus, meskipun tidak dijamin. Dia mengatakan para ilmuwan berharap untuk memulai uji coba manusia di Amerika Serikat dalam beberapa minggu.
“Kami menggunakan dosis tunggal dan dua dosis vaksin. Sepertinya keduanya memberikan respon imun yang berguna meskipun setelah dua dosis kita melihat respon imun yang lebih kuat,” kta dia.
Vaksin potensial ini adalah salah satu dari 100 yang dikembangkan di seluruh dunia untuk Covid-19, yang telah menginfeksi lebih dari 14 juta orang di seluruh dunia dan menewaskan sedikitnya 606.206, menurut data yang dikumpulkan oleh Universitas Johns Hopkins. Setidaknya 23 kandidat vaksin sudah dalam uji coba manusia, menurut Organisasi Kesehatan Dunia.**(RW)