Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Wednesday, September 30, 2020
redaksi@topcareer.id
Lifestyle

Pria Dua Kali Lebih Mungkin Alami Kematian Jantung Mendadak Dibandingkan Wanita

Topcareer.id – Kamu pasti pernah mendengar atau mengenal seseorang yang menderita sudden death atau kematian mendadak, dan sering kali terjadi pada orang yang relatif masih muda dan sehat.

Dikenal sebagai kematian jantung mendadak atau Sudden Cardiac Death (SCD), disebabkan ketika jantung berhenti berfungsi secara tiba-tiba.

Di negara maju seperti Amerika Serikat ini merupakan penyebab sekitar 325.000 kematian orang dewasa di sana setiap tahunnya.

Demografi dari kasus SCD yang paling sering adalah pada orang dewasa yang menua mulai dari usia 30-an hingga 40-an, dengan pria dua kali lebih mungkin terkena daripada wanita. Untuk anak-anak jarang terkena, tingkat kemungkinannya hanya 0,0015%.

Baca Juga: Cek Lingkar Pinggang! Orang Buncit Berisiko Kena Serangan Jantung

SCD bukanlah serangan jantung, dan terdengar membingungkan. Serangan jantung merupakan akibat dari penyumbatan aliran darah ke jantung, kekurangan darah ini akan menyebabkan kerusakan pada otot jantung dan terjadilah serangan jantung.

Sedangkan SCD, merupakan sistem kelistrikan yang memberdayakan jantung berhenti beroperasi dengan benar, dan jantung mulai berdetak sangat cepat. Karena jantung berdetak terlalu cepat, sehingga tidak mengeluarkan darah ke tubuh, sering kali mengakibatkan ketidaksadaran karena darah tidak sampai ke otak. Dan jika tidak segera ditangani, korban akan meninggal dunia.

Ketika berpikir tentang faktor risiko, beberapa bersifat universal dan yang lain spesifik karena usia. Ada terlalu banyak kisah tentang orang muda yang menderita SCD saat terlibat dalam kegiatan atletik. Kamu juga mungkin pernah mendengar tentang ‘jantung yang membesar’ atau hypertrophic cardiomyopathy, di mana otot jantung tumbuh secara tidak normal dan membuatnya lebih sulit untuk memompa darah. Ini adalah penyebab paling umum dari SCD pada atlet dan seringkali tidak terdeteksi.

Baca Juga: Ini Kaitan Fast Food dan Risiko Serangan Jantung yang Wajib Kamu Tahu

Faktor risiko orang muda lainnya termasuk arteri jantung yang telah tumbuh secara abnormal yang membuat kesulitan memompa darah. Gangguan irama jantung yang terlalu cepat juga bisamenyebabkan pingsan dan mungkin SCD.

Tetapi secara umum, mengutip Medical West Hospital, faktor risiko untuk SCD adalah:

  • Serangan jantung sebelumnya (terutama dalam enam bulan setelah serangan jantung)
  • Penyakit arteri koroner (dibawa oleh kebiasaan merokok, riwayat keluarga, kolesterol tinggi)
  • Sejarah pingsan
  • Riwayat keluarga SCD
  • Obesitas
  • Diabetes
  • Penggunaan narkoba untuk bersenang-senang
  • Gagal jantung (pemompaan yang sangat lemah dari jantung)

Ketika ingin melakukan pengobatan untuk SCD, pengetahuan yang benar itu harus. Pertama dan terpenting, jika kamu dapat menghilangkan faktor risiko tertentu dari gaya hidup kamu seperti obesitas, merokok, penggunaan narkoba, dll. Itu akan berpengaruh besar dalam mengurangi resiko SCD. Tetapi jika kamu merasa memiliki risiko SCD, segera bicarakan dengan keluarga, rekan kerja, atau teman dekat kamu, pastikan mereka tahu pentingnya tindakan penanganan.

Apa yang perlu mereka ketahui?

  • Hubungi RS atau bawa ke UGD segera
    Jangan lambat. Kelangsungan hidup penderita SCD dapat mencapai 90% jika pengobatan dimulai segera dalam 5 menit setelah serangan terlihat. dan akan terus turun 10% untuk setiap menit setelahnya.
  • Performa CPR atau napas buatan yang tepat
    Ini bisa jadi penyelamat. Kamu bisa mempelajari CPR di Rumah Sakit, kantor pemadam kebakaran, atau melalui youtube.
  • Jika tersedia, ketahuilah di mana letak AED (Ambulatory External Defibrillator) berada dan bagaimana cara menggunakannya. Terutama di tempat-tempat atletik atau di tempat kerja.
  • Percayakan tenaga medis
    Percayakan pada tenaga medis setelah kamu segera mengantarkan orang yang terkena SCD, mereka secara khusus telah dilatih dalam tindakan yang diperlukan untuk membantu dalam situasi ini.

Selain dengan pengetahuan yang perlu dimiliki, ada juga opsi untuk memiliki ICD yang ditanamkan. ICD adalah ‘Implantable Cardioverter-Defibrillator’, itu adalah pengobatan dan juga untuk pencegahan (dapat digunakan untuk penderita yang selamat).

Elektronik dalam ICD memantau detak jantung, dan ketika merasakan detak jantung yang terlalu cepat, alat itu akan memberikan kejutan pada jantung dan mengembalikannya dalam langkah normal. ICD juga menyimpan catatan kejadian dan info itu dapat dilihat oleh dokter. Operasi juga dapat dilakukan untuk membantu meningkatkan aliran darah ke jantung.

Jadi singkatnya ketika menghadapi ke SCD dan kamu tahu faktor risiko yang ada pada diri kamu atau seseorang, cari tahu riwayat keluarga, dan beri tahu orang-orang di sekitar kamu tentang apa yang harus dilakukan. Dan lakukan perubahan yang diperlukan untuk mengurangi risiko SCD pribadi kamu.**(RW)

the authorRino Prasetyo

Leave a Reply