Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Tuesday, October 27, 2020
redaksi@topcareer.id
Profesional

5 Alasan Mengapa Zoom Meeting Bisa Sangat Melelahkan

Topcareer.id – Semakin banyak orang yang bekerja dari rumah bahkan sebelum pandemi COVID-19. Begitu pandemi mulai dan meluas, semakin banyak jumlah karyawan yang melakukan WFH (Working From Home).

Jika kamu juga mengalami hal ini berarti kamu sekali waktu akan menghabiskan banyak waktu untuk melakukan rapat virtual menggunakan Zoom. Efeknya cukup mengejutkan.

Menyaksikan satu kepala raksasa atau sekumpulan wajah di layar monitor yang menatapmu dari dekat untuk waktu yang lama dapat menjadi hal yang tidak menyenangkan, tidak peduli walaupun mereka semua telah merapikan rambut dan berdandan.

Baca Juga: 7 Panduan Menjadi Host Virtual Meeting yang Menarik

Jadi, mengapa rapat online atau zoom meeting bisa lebih melelahkan daripada rapat bertatap muka langsung?

Orang-orang merasa mereka harus melakukan upaya yang lebih emosional untuk terlihat tertarik pada topik dan dengan tidak adanya banyak isyarat non-verbal, fokus yang intens pada kata-kata dan kontak mata yang berkelanjutan sangatlah melelahkan.

Bertemu secara online meningkatkan beban kognitif karena beberapa fiturnya memerlukan banyak kapasitas sadar.

Kehilangan banyak komunikasi non-verbal

Perasaan dan sikap seseorang sebagian besar disampaikan oleh sinyal nonverbal seperti ekspresi wajah, nada suara, gerak tubuh, postur tubuh, dan jarak antara komunikator. Dalam pertemuan tatap muka, kamu akan memproses sebagian besar isyarat ini secara otomatis dan masih dapat mendengarkan pembicara pada saat yang bersamaan. Namun dalam zoom meeting kamu perlu bekerja lebih keras untuk memproses isyarat nonverbal. Memperhatikan lebih banyak hal ini akan menghabiskan banyak energi.

Bagaimana jika ada anggota keluarga berlalu-lalang?

Biasanya peserta zoom meeting merasa cemas tentang ruang kerja jarak jauhnya yang mungkin membuat dirinya terlihat buruk di mata kolega. Bisa saja saat meeting berlangsung anak-anak berlarian atau menghampiri, jika mematikan fitur kamera bisa saja menjadi penilaian negatif mungkin dengan tuduhan enggan mengikuti meeting.

Tidak ada suguhan dan aktivitas yang memicu kreativitas

Biasanya saat rapat tatap muka secara langsung kamu akan mendapatkan suguhan kopi dan snack, selain itu juga kamu bisa melakukan tindakan sederhana untuk pindah ke tempat duduk yang berbeda untuk me-refresh energi. Tapi di rumah, kamu harus mempersiapkan semua sendiri. Selain itu, bergerak selama rapat atau mengadakan rapat secara stand-up untuk meningkatkan kreativitas yang sekarang tengah populer, sulit dilakukan dengan panggilan Zoom.

Menatap wajah sendiri bisa membuat stres

Penekanan terhadap kemampuan untuk melihat diri sendiri juga bisa menjadi pemicu stres. Melihat ekspresi wajah negatif kamu sendiri seperti kemarahan dan kecewa, dapat menyebabkan emosi yang lebih kuat daripada saat melihat ekspresi wajah yang serupa pada orang lain.

Apakah kamu mendengarkan atau hanya diam?

Keheningan dalam percakapan pada kehidupan nyata dan bertatap muka secara langsung itu penting dan menciptakan ritme yang alami. Namun dalam panggilan video, keheningan bisa membuat cemas. Bahkan penundaan 2-3 detik dalam menanggapi secara online membuat orang menganggap orang yang berbicara kurang menghargai atau kurang fokus. Selain itu, rasa frustrasi dengan orang-orang yang menyalakan dan mematikan kamera, koneksi yang lambat, dan kebisingan latar belakang membuat rapat jarang berjalan semulus yang diharapkan.**(RW)

the authorRino Prasetyo

Leave a Reply