Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Saturday, October 24, 2020
redaksi@topcareer.id
Tips Karier

Ciri-Ciri Penderita Imposter Syndrome, Bahaya untuk Karier

Ilustrasi. Sumber foto: gazeta-shqip.comIlustrasi. Sumber foto: gazeta-shqip.com

Topcareer.id – Imposter syndrome adalah pengalaman terus-menerus merasa seperti penipu, meremehkan pencapaian, dan selalu khawatir akan dianggap tidak kompeten atau tidak mampu. Akibatnya, orang dengan sindrom penipu terlibat dalam kerja berlebihan atau sabotase diri.

Sindrom penipu mempengaruhi profesional berprestasi yang tampaknya sukses. Penelitian menunjukkan bahwa 70 persen dari semua orang pernah mengalami hal ini di beberapa titik dalam hidup mereka.

Mengutip dari buku Own Your Greatness, sindrom ini bukanlah klasifikasi diagnostik melainkan sekelompok pikiran, perilaku, dan perasaan yang berkumpul bersama untuk menciptakan sindrom ini dan memiliki dampak signifikan pada fungsi emosionalmu.

Sindrom ini dapat menimbulkan perasaan cemas, rendah diri, depresi, dan frustrasi karena pikiran dan perilaku yang diakibatkannya.

Tanda-tanda Imposter Syndrome

  • Kamu berprestasi tinggi
  • Kamu ingin menjadi “spesial” atau “yang terbaik”
  • Kamu menyangkal kemampuan dan menghubungkan kesuksesan dengan keberuntungan, kesalahan, kerja berlebihan, atau hasil dari suatu hubungan
  • Kamu mengabaikan pujian, merasa takut dan bersalah tentang kesuksesan
  • Kamu takut gagal dan dikatakan sebagai penipu
  • Kamu tidak merasa cerdas
  • Kamu memiliki kecemasan, masalah harga diri, depresi, dan frustrasi dari standar internal
  • Kamu bergumul dengan perfeksionisme
  • Kamu melebih-lebihkan orang lain dan meremehkan diri sendiri
  • Kamu tidak mengalami perasaan sukses internal
  • Kamu terlalu banyak bekerja atau menyabotase diri untuk menutupi perasaan tidak mampu

Baca juga: Mengenal Profesi Petugas Pemeriksa Jalur Kereta Api, dari Tugas hingga Jenjang Karier

Tampaknya pria mungkin lebih cenderung menghindari situasi di mana mereka dapat diekspos sebagai penipu dan cenderung membandingkan diri mereka dengan teman sebaya, dengan kualifikasi yang lebih sedikit.

Hal ini memungkinkan mereka memiliki mekanisme perlindungan yang meningkatkan harga diri mereka, meskipun juga membuat mereka kurang berprestasi. Sebaliknya, wanita dengan imposter syndrome memilih untuk tetap berada dalam situasi di mana mereka terus-menerus diganggu oleh perasaan curang.

Menurut peneliti Clance, P. R., & Imes, S. A, untuk menangani imposter syndrome,  berikut cara melepaskan perfeksionisme dan mengatasi imposter syndrome:

  • Fokus pada “cukup baik” bukan kesempurnaan
  • Sadarilah bahwa perfeksionisme menyakitimu dan orang-orang di sekitarmu
  • Banggalah dan terima kemanusiaanmu
  • Bandingkan dirimu dengan dirimu sendiri
  • Temukan kenyamanan dalam memilih jalan sendiri
  • Belajar menerima keindahan kompromi
  • Pilih standar yang dirasa masuk akal
  • Menghargai kesalahan memberikan kesempatan untuk berkembang
  • Sadarilah bahwa kesempurnaan tidak mungkin dicapai dan meraihnya membuatmu merasa gagal.**(Feb)

Leave a Reply