Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Tuesday, October 27, 2020
redaksi@topcareer.id
Lifestyle

Tes Swab Aman dan Tidak Merusak Otak

Foto Ilustrasi Tes Swab

Topcareer.id – Sempat ramai dibicarakan pada pertengahan tahun 2020 di tengah pandemi COVID-19 sebuah klaim yang menyatakan bahwa swab test virus corona bisa merugikan masyarakat karena dianggap bisa merusak otak.

Sebuah gambar yang menunjukkan swab tes yang sedang dilakukan telah beredar luas di Facebook dan Instagram bersama dengan klaim bahwa swab merusak sawar darah-otak.

Gagasan ini terbukti murni kesalahpahaman karena orang tidak mengetahui secara lengkap tentang apa itu swab test dan bagaimana cara kerjanya.

Otak memiliki banyak lapisan perlindungan. Pertama dan yang paling jelas adalah tengkorak dan di dalamnya, otak selanjutnya terbungkus dalam membran pelindung dan cairan.

Baca Juga: Tak Perlu Bayar Mahal, Tes Swab Kini Hanya Rp 900.000 Per Orang

Di dalam pembuluh darah yang melapisi otak, sawar darah-otak adalah lapisan sel yang padat yang menghentikan molekul yang beredar dalam darah agar tidak masuk ke otak, dan memungkinkan masuknya oksigen serta nutrisi.

Stik swab tes yang dimasukkan ke dalam hidung memang perlu menembus beberapa lapisan jaringan dan mengebor melalui tulang dan masuk ke pembuluh darah untuk mencapai sawar darah-otak.

“Namun sejauh ini belum ada bukti sama sekali tentang komplikasi dari swab test COVID-19 dalam praktik neurologi”, kata Dr. Liz Coulthard, anggota komite British Neuroscience Association (BNA), mengutip dari BBC.

Swab nasofaring memeriksa virus corona di bagian belakang saluran hidung dan merupakan salah satu dari berbagai teknik swab.

“Saya telah men-swab banyak pasien saat bekerja di rumah sakit dan juga melakukan swab ini pada diri saya sendiri setiap minggu sebagai sukarelawan dalam uji coba. Swab bisa terasa gatal atau menggelitik dan seharusnya tidak menyakitkan,” kata Dr. Tom Wingfield dari Liverpool School of Tropical Medicine.

Klaim palsu mulai muncul di akun Facebook yang berbasis di AS pada 6 Juli lalu dan disusul beberapa versi lain termasuk seruan untuk menolak swab test. Hal tersebut telah dinilai “salah” oleh organisasi pengecekan fakta di Facebook dengan dukungan dari tim medis profesional.**(RW)

the authorRino Prasetyo

Leave a Reply