Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Friday, December 4, 2020
redaksi@topcareer.id
Tren

Pasar Smartphone Pulih dari Krisis Virus Corona, Xiaomi Kalahkan Apple iPhone

Topcareer.id – Xiaomi telah mengklaim tempat ketiga di antara produsen smartphone terbesar di dunia untuk pertama kalinya, menurut hasil kuartal terbaru, diungkapkan oleh tiga perusahaan riset – International Data Corporation (IDC), Counterpoint dan Canalys.

Dalam tiga bulan hingga akhir September, pengiriman perusahaan Xiaomi mencapai rekor tertingginya dengan data menunjukkan pertumbuhan lebih dari 40 persen dan jumlah unit yang dikirim berkisar antara 46,2 juta dan 47,1 juta.

Sementara itu, saingan terdekatnya, Apple, merosot ke peringkat keempat. Menurut IDC, perusahaan AS ini mengirimkan 41,6 juta iPhone pada kuartal ketiga, turun lebih dari 10 persen dari tahun-ke-tahun. Data dari Counterpoint sedikit berbeda, tetapi Canalys menyebutkan jumlah pengiriman 43,2 juta. Namun, data dari ketiga perusahaan tersebut menunjukkan bahwa Apple tetap berada di belakang Xiaomi.

Baca Juga: Pasar Smartphone Global Diperkirakan Lesu Hingga 2021

Keberhasilan Xiaomi sebagian didorong oleh masalah pesaing domestiknya, Huawei. Perusahaan itu kehilangan mahkotanya sebagai pembuat smartphone terbesar secara global dari Samsung, di tengah meningkatnya tekanan sanksi AS. Data menunjukkan, Samsung mengirimkan sekitar 80 juta smartphone, sementara Huawei mengirim sekitar 30 juta lebih sedikit perangkat pada kuartal ketiga.

Beberapa analis percaya bahwa Xiaomi mungkin telah mengambil beberapa pelanggan dari Huawei.

“Xiaomi mengeksekusi dengan agresi untuk menyita pengiriman dari Huawei,” kata Mo Jia, analis di Canalys. “Ada simetri di Q3, karena Xiaomi menambahkan 14,5 juta unit dan Huawei kehilangan 15,1 juta. Di Eropa, medan pertempuran utama, pengiriman Huawei turun 25 persen, sementara Xiaomi tumbuh 88 persen.” Tambahnya.

Donald Trump secara efektif melarang perusahaan Amerika melakukan bisnis dengan Huawei, raksasa teknologi asal China itu. Dengan demikian, Huawei kehilangan akses ke pembaruan perangkat lunak Google Android di ponsel cerdasnya, yang dapat dengan mudah membuat takut calon klien, terutama yang berada di luar China.**(RW)

the authorRino Prasetyo

Leave a Reply