Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Wednesday, December 2, 2020
redaksi@topcareer.id
Tren

Menristek: Perlu Ada Pusat Nasional Uji Klinis, Termasuk untuk Vaksin Covid-19

Topcareer.id – Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro mengatakan perlu adanya standarisasi uji klinis nasional termasuk untuk obat, terapi, dan vaksin guna memudahkan kegiatan pengembangan hingga hilirisasi riset.

Menurutnya, pemberian vaksin ke masyarakat bukan satu-satunya solusi tangani Covid-19, namun tetap diperlukan dalam rangka menciptakan kekebalan massal hadapi pandemi Covid-19.

“Tidak mungkin mencapai kekebalan massa tanpa pemberian vaksin. Kekebalan massal dapat terwujud apabila dua per tiga atau kurang lebih 70 persen dari total penduduk Indonesia diberikan vaksin,” jelas Menteri Bambang dalam seminar virtual, Kamis (5/11/2020) lalu.

Dalam diskusinya dengan beberapa perusahaan-perusahaan farmasi, Menteri Bambang mengetahui perusahaan farmasi menghadapi tantangan dalam melakukan uji klinis sehingga perlu ada standarisasi untuk memudahkan mereka dalam melakukan kegiatan riset dan pengembangan serta inovasi ke depan.

Baca juga: Begini cara Menemukan Vaksin secara Cepat

“Perlunya adanya standarisasi untuk clinical trial (uji klinis) secara nasional, ini menjadi sangat mendesak. Bahkan perusahaan-perusahaan farmasi tersebut menyarankan agar Indonesia memiliki semacam pusat nasional untuk uji klinis (national center for clinical trial),” ucap Menteri Bambang.

Bambang menjelaskan, uji klinis tingkat nasional artinya termasuk bagaimana menentukan ethical clearance (kelayakan etik) dan proses uji klinis segala macam sehingga semuanya terstandar.

Ia menyakini kemampuan industri farmasi di Indonesia, namun tentunya difasilitasi dengan kemudahan dalam melakukan kegiatan riset dan pengembangan termasuk terkait vaksin yang saat ini dibutuhkan untuk pencegahan Covid-19.

“Kalau semua memiliki standar maka ini akan memberikan kepastian dan semangat inovasi yang lebih tinggi, riset, dan pengembangan yang lebih tinggi bagi perusahaan farmasi. Tentunya tanpa mengesampingkan masalah safety (keamanan) dan masalah efficacy (kemanjuran) yang dari obat, terapi atau vaksin yang diuji coba,” tutur Menteri Bambang.

Kemenristek/BRIN berperan strategis dalam upaya penguatan ekosistem triple dalam pencapaian menemu-kembangkan produk inovasi teknologi.**(Feb)

Leave a Reply