Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Tuesday, November 24, 2020
redaksi@topcareer.id
Tren

Penyintas Covid: Puji Tuhan Saya Terkena Covid-19 (Bagian 2)

FX. Budijuwono, Penyintas Covid-19

Topcareer.id – “Puji Tuhan saya terkena Covid-19″ungkap FX Budijuwono dalam sharingnya kepada Topcareer.id, Jumat (13/11/2020).

Kalimat ini tentu saja terdengar aneh bagi kita. Di saat semua orang takut terjangkit virus yang telah menginvasi bumi dan menginfeksi lebih dari 53,6 juta penduduk warga dunia, dengan 1,3 juta di antaranya meninggal dunia, Budi justru merasa bersyukur.

“Patut disyukuri bahwa hidup sehat itu mahal, maka dengan terkena covid kita akan bisa berefleksi bahwa hidup sehat itu anugerah yang patut kita syukuri”sebut Budi kepada Topcareer. Ya, FX Budijuwono adalah salah satu pasien Covid-19 yang kini telah dinyatakan sembuh setelah hampir dua minggu dirawat di rumah sakit.

Budi, demikian pria berkaca mata ini akrab disapa, membagikan pengalaman tentang bagaimana virus tak kasatmata bernama Corona ini menyerang paru-parunya dan membuatnya tak berdaya.

Berikut kisah nyata yang diceritakan sendiri FX. Budijuwono: (Artikel bagian kedua)

Masuk IGD

Dua petugas di ambulance yang menggunakan baju layak astronot, menurunkan saya di RS RT Jakarta Barat. Keduanya dengan hati-hati mendorong saya masuk IGD yang sedingin kulkas. Inilah ruangan terdingin yang pernah saya masuki. Tubuh memang meriang tapi ini dinginnya beda. Saya benar-benar ringkih karenanya.

Saya diberi tempat duduk. Di sebelah sejarak 2 meter, ada seorang bapak berkacamata, memakai levis. Sendirian. Di tangannya terpasang infus dan batuknya mengganggu ruang IGD berukuran 8×5 meter. Ia kedinginan meminta AC diturunkan, tapi tak bisa, sebab AC-nya sentral.

“Tak bisa pak, alat-alatnya harus dalam kondisi dingin,” jawab petugas medis yang ternyata wanita, karena baju APD yang seragam susah membedakannya jika mereka belum bersuara.

Saya ditidurkan di sini, langsung diinfus, diambil darah lalu disuruh menunggu 1 jam, sebab kamar belum tersedia. Saat menunggu itulah batuk berbusa putih, untung belum sempat berdarah. Sakitnya kalau batuk-batuk itu terjadi; batuk terjadi lagi dan terjadi, demikian seterusnya.

Walau sakit yang tak tertahankan, saya memperhatikan sekeliling. Hanya ada dua petugas medis malam dini hari. Di lantai 5 RS. Royal ada dua suster perempuan dan satu dokter jaga. Dia duduk di meja, lantai 5 itu ada sederetan kanan kiri terdapat kamar-kamar kelas VIP dan kelas 1 (1 kamar berdua). Semua pandangan pasien IGD tanpa tirai itu rata-rata berumur separuh baya; ada beberapa anak-anak muda usia produktif yang sedang duduk memainkan laptop.

Satu jam sudah berlalu. Saya menunggu dengan pasrah. Tak bisa tidur, batuk terus saja bertalu. Dinginnya tak usah disebut. Dua selimut yang melekat di tubuh saja tak mampu meredam. Di sisi lain, walau dingin, anehnya baju ini sudah basah lagi. Keringat demam mengucur tak henti. Sudah hampir sepekan seperti ini saya alami.

Akhirnya sekitar pukul 16.30 WIB, kamar saya tersedia. Saya pasien terakhir di ruangan IGD. Sejak tadi, satu persatu pasien sudah pergi. Mereka mungkin sudah menunggu sejak pagi. Saya dibantu turun ranjang dan didorong dengan kursi roda. Perawat IGD itu bernama Santi, sebagaimana tertulis di punggung baju APD nya. Dia meletakan botol infus dan tabung oksigen di pangkuan saya dengan cekatan serta ransel saya serta barang-barang lainnya yang kubawa dari rumah berupa vitamin-vitamin.

Sambil mendorong kursi rodaku, seorang bruder juga menggotong semua bawaan saya. Sendirian. Padahal ransel saya dan dua tentengan besar yang isinya random itu agak berat. Kok tidak ada petugas lain ya yang membantu, kata saya dalam hati. Bukankah perawat IGD harus tetap standby di IGD. Atau setidaknya begitu pengetahuan saya yang selalu langganan rawat di RS tiap tahunnya. “Tidak kak, sudah SOP tim medis covid ya seperti ini. one person multy duty,” kata Santi yang terlihat kesusahan membuka pintu koridor ruangan dengan semua bebannya. Luar biasa, bisik saya.

Sepanjang lorong Rumah Sakit, semuanya berwarna putih. Saya seperti masuk ke lantai 5 dan lorongnya cukup panjang. Kursi roda berbunyi berderik dan bergoyang. Begitu pula dengan semua pembatasnya, semua perawat yang standby mengenakan baju APD dengan baju hazmat tim medis yang berlalu lalang. Saya seperti masuk ke sebuah laboratorium NASA.

Tiba-tiba dorongan kursi terhenti. Saya yang sesak nafas teramat dalam berpikir sudah sampai di depan kamar rawat. Ternyata saya diserahterimakan oleh petugas berseragam sama di tengah lorong. Sembari menunggu keduanya berdiskusi, saya perhatikan kamar ini bagus, nyaman; Oh Puji Tuhan. Banyak petugas medis yang bergerak cepat. Ada yang meletakan barang di pinggir koridor. Sesaat dia berlalu, petugas lainnya dari lorong sebelah mengambil barang tersebut. Mereka bekerja seperti semut tanpa banyak bicara, seakan-akan mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan. Mereka bekerja dalam diam. Sistematis sesuai dengan prosedur yang sudah digariskan dalam SOP.

Saya lihat ada tumpukan air mineral. Ada tumpukan kantong limbah medis dan lainnya. Setiap mereka mempunyai HP tablet yang telah disarungi plastik. Kadang mereka mengetik namun acap kali berkomunikasi dengan mode laudspeaker. “Ini Pak Budi langsung masuk kamar nomor: 517. Sementara bapak sendirian ya” sayup-sayup terdengar saat mereka berkoordinasi, tapi tubuh ini sudah tak bisa diajak kompromi. Sebentar lagi masuk sore, dan ingin mandi karena badan ini terasa lengket. Dingin, capai, kantuk dan sesak; konsentrasi tidak fokus. Saya batuk-batuk dan semakin sesak, jalan kian jauh. Sepi. Tak lama kemudian para suster perawat masuk ke kamarku, mereka membawa seperangkat perlengkapan medis. Saya ditensi, disuntik vitamin C dosis tinggi dan segenggam obat plus berbagai vitamin. Tak ingat lagi berapa banyak obat dan vitamin yang kutelan.

Makin Memburuk……..

the authorRetno Wulandari

Leave a Reply