Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Tuesday, January 26, 2021
redaksi@topcareer.id
Profesional

AirAsia Jepang Bangkrut, 23 Ribu Pelanggan Belum Terima Pengembalian Dana

Sumber foto: Skift.com

Topcareer.id – AirAsia Jepang menjadi maskapai penerbangan pertama yang gagal di negara Jepang selama era COVID-19.

Maskapai tersebut mengajukan proses kebangkrutan di Pengadilan Distrik Tokyo pada hari Selasa (24/11) dengan kewajiban yang harus dilunasi sekitar 21,7 miliar yen atau sekitar Rp 2.9 triliun.

Langkah itu dilakukan setelah induk maskapai penerbangan hemat Malaysia, AirAsia, menghentikan bantuan untuk usaha patungan Jepang di tengah penurunan global dalam perjalanan udara.

Lebih dari 23.000 pelanggan belum menerima pengembalian uang untuk penerbangan yang dibatalkan, menurut Tamotsu Ueno, pengacara yang menjabat sebagai administrator AirAsia Jepang. AirAsia mengatakan akan memberikan kredit yang dapat digunakan untuk penerbangan internasional pada grup dari AirAsia.

Perusahaan berencana mencari bantuan dari pemegang saham, kata Ueno dalam konferensi pers.

Para investor termasuk grup e-commerce Jepang Rakuten, pembuat produk kesehatan dan kecantikan Noevir Holdings, dan operator toko perlengkapan olahraga Alpen.

Baca juga: Perusahaan Ini Dinobatkan sebagai Maskapai Termurah di Asia

Ueno mengatakan kepada wartawan di bandara bahwa pengembalian dana pelanggan yang belum dibayar berjumlah lebih sedikit yakni 500 juta yen atau sekitar Rp 67.5 miliar.

Chief Operating Officer AirAsia Jepang Jun Aida mengatakan kepada Nikkei bahwa perusahaan “akan bekerja sama dengan setiap prosedur yang diperlukan.”

Juru bicara Alpen dan Noevir masih menolak berkomentar tentang masalah tersebut.

Pandemi virus corona melanda sebelum AirAsia Jepang memiliki kesempatan untuk meningkatkan profitabilitas dengan memperluas layanannya. Maskapai ini hanya memiliki tiga pesawat yang disewakan.

Setelah membatalkan penerbangan mulai bulan April, pada bulan Oktober diumumkan penghentian semua rute. Sebagian besar dari hampir 300 karyawannya diberhentikan pada 4 November dan hanya menyisakan sekitar 50 orang untuk menangani proses likuidasi. Ueno mengatakan beberapa gaji juga masih belum dibayar.

AirAsia Jepang melaporkan kerugian bersih sekitar 4,7 miliar yen atas pendapatan sekitar 4 miliar yen untuk tahun 2019.**(Feb)

the authorRino Prasetyo

Leave a Reply