Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Wednesday, January 20, 2021
redaksi@topcareer.id
Covid-19

Vaksin COVID-19 Diharap Bangkitkan Optimisme Pelaku Usaha di 2021

Topcareer.id – Deputi Sekretaris Kabinet (Seskab) Bidang Perekonomian Satya Bhakti Parikesit menyampaikan bahwa vaksin COVID-19 yang sudah tiba di Indonesia bisa membangkitkan optimisme hadapi tahun 2021.

Ia mengatakan, kondisi pandemi COVID-19 sampai saat ini masih eskalatif, masih terjadi penambahan kasus maupun kematian Namun, tingkat kesembuhan dan kasus aktif di Indonesia lebih baik dari rata-rata dunia. Hal tersebut, kata dia, akhirnya juga berdampak terhadap perekonomian Indonesia.

“Memang game changer-nya ini adalah vaksin, yang memang kita harapkan bisa menjadi game changer di tahun 2021,” ujar Bhakti dalam Focus Group Discussion secara virtual, Kamis (10/12/2020).

Lebih lanjut, Bhakti berharap, dengan telah tibanya vaksin Sinovac di Indonesia bisa menjadi obat atau kepercayaan diri terutama bagi pelaku usaha untuk bisa optimistis menghadapi tahun 2021.

“Kita juga menyiapkan di tahun 2021 ini dengan Undang-Undang Cipta Kerja, omnibus law yang kita harapkan bisa mendorong perbaikan iklim usaha. Implementasi kebijakan ini kita harapkan bisa menjadi kunci keberhasilan untuk bisa meningkatkan investasi dan penciptaan lapangan pekerjaan,” jelas dia.

Baca juga: Jumlah Pemeriksaan Covid-19 Di Indonesia Cuma Beda 4,65% Dari Target WHO

Pada kesempatan ini, Deputi Seskab Bidang Perekonomian juga mengungkapkan, dalam upaya penanganan COVID-19 dan pemulihan ekonomi nasional, pemerintah telah mengeluarkan sejumlah kebijakan di bidang kesehatan serta perlindungan sosial untuk menjaga konsumsi dan daya beli masyarakat. Termasuk juga dukungan pada UMKM dan pembiayaan korporasi serta insentif usaha.

“Di konteks insentif usaha ini memang pemerintah memberikan beberapa insentif-insentif fiskal: PPh 21, pembebasan PPh 22 impor, pengurangan angsuran, pengembalian, pendahuluan PPN, pengurangan tarif ini dan seterusnya,” tuturnya.

Dari segi penyerapan anggaran, Bhakti menilai tingkat penyerapan pada klaster insentif usaha ini masih relatif sangat kecil. Dari total alokasi anggaran yang berjumlah Rp120,61 triliun, baru terserap 38,5 persen.

Menurut Bhakti, pemerintah menyadari bahwa di saat sekarang ini instrumen yang paling cepat bisa segera dilakukan adalah instrumen dari APBN.

“Tapi kalau ternyata penyerapannya ini kurang sesuai dengan apa yang diharapkan, nah ini yang kita khawatir pemulihan ekonomi nasionalnya pun akan menjadi terhambat,” pungkasnya.

Leave a Reply