Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Kamis, Juni 24, 2021
redaksi@topcareer.id
Tren

Ekspor Produk Jamu Indonesia Naik 14,08% pada Januari-September 2020

Produk jamu.

Topcareer.id – Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menyampaikan, nilai ekspor produk jamu atau biofarmaka Indonesia pada periode Januari-September 2020 meningkat 14,08% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pencapaian yang cukup menggembirakan di tengah pandemi COVID-19.

“Setelah menurun selama periode lima tahun terakhir (2015-2019) kecuali pada 2017, ekspor jamu atau biofarmaka Indonesia berhasil mencatatkan nilai USD9,64 juta pada Januari—September 2020. Nilai tersebut naik 14,08% dibandingkan pada periode yang sama (Januari-September) tahun lalu yang senilai US 8,45 juta,” jelas Mendag dalam keterangannya, Kamis (10/12/2020).

Negara tujuan ekspor produk biofarmaka Indonesia pada periode Januari-September 2020 masih didominasi oleh India (62,30%), Singapura (6,15%), Jepang (5,08%), Malaysia (3,75%), dan Vietnam (3,17%).

Pada 2019, Indonesia menempati urutan ke-19 negara pengekspor jamu atau biofarmaka ke dunia dengan pangsa pasar 0,61 persen. Adapun pemasok jamu atau biofarmaka dunia masih dikuasai oIeh India (33,46%), Tiongkok (27,54%), dan Belanda (6,05%).

Mendag menambahkan, untuk meningkatkan ekspor, Kemendag telah menyusun strategi peningkatan jangka pendek dan jangka menengah, salah satunya melalui pendekatan produk. Produk yang dijadikan fokus antara lain produk makanan dan minuman olahan; alat-alat kesehatan; produk pertanian, produk perikanan; serta produk agroindustri.

“Produk jamu, suplemen kesehatan, rempah-rempah, kosmetik, spa, dan aromaterapi termasuk dalam kategori produk-produk yang menjadi fokus strategi peningkatan ekspor tersebut,” ujar Mendag.

Baca juga: Saham Tesla Diprediksi Capai USD 1.000 Akibat Permintaan Global Melonjak

Produk biofarmaka menghadapi beberapa tantangan, antara lain akses pasar; kontinuitas dan ketepatan pengiriman; isu lingkungan; daya saing; sertifikasi organik; keberlanjutan; ketertelusuran; transparansi, hilirisasi; pengamanan perdagangan; hambatan nontarif, biaya logistik yang tinggi; good agricultural practices (GAP) and good manufacture practices (GMP).

Kondisi pandemi juga memberikan dampak terhadap perdagangan Indonesia termasuk produk rempah, antara lain adanya peningkatan biaya logistik, perubahan pola perdagangan global, kerja sama perdagangan tidak berjalan efektif selama pandemi Covid-19, dan adanya ancaman resesi ekonomi global.

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto yang turut hadir dan memberikan sambutan menyampaikan, saat ini terdapat 11 ribu produk jamu, 72 obat herbal terstandar, dan 24 produk fitofarmaka.

Jamu terbukti secara turun-temurun menjaga kesehatan masyarakat Indonesia. Obat herbal terstandar dan produk fitofarmaka telah dibuktikan secara uji praklinis dan/atau klinis.

Ketiganya merupakan produk tradisional Indonesia yang harus didukung agar menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan tamu istimewa di pasar global.

Tinggalkan Balasan