Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Rabu, Juni 23, 2021
redaksi@topcareer.id
Covid-19

Para Ahli: Data Tak Lengkap bisa Rusak Kepercayaan terhadap Vaksin Sinovac

Kemenkes jawab isu vaksin covid terdapat mikrocipFoto Ilustrasi vaksin covid-19

Topcareer.id – Rilis fragmental dari data kemanjuran untuk vaksin COVID-19 yang dikembangkan oleh Sinovac China dapat merusak kepercayaan pada vaksin, para ahli telah memperingatkan, karena beberapa negara mempersiapkan inokulasi massal dengan vaksin.

Peneliti Turki mengatakan pada hari Kamis (24/12), rilis yang menyebut Sinovac 91,25% efektif menjadi membingungkan setelah pada hari yang sama, Brasil mengatakan bahwa kemanjurannya antara 50% dan 90%.

Brasil juga telah menunda rilis data kemanjuran vaksin tersebut sebanyak tiga kali, karena Sinovac berupaya mengonsolidasikan data dari uji coba global yang mencakup Indonesia, Turki, dan Chili.

Data efektivitas diawasi dengan ketat karena banyak negara berkembang telah menandatangani kesepakatan untuk menggunakan vaksin Sinovac yang lebih mudah disimpan dan diangkut daripada suntikan yang dikembangkan oleh Pfizer dan mitranya BioNTech serta Moderna.

Para ahli mengatakan bukan hal yang aneh jika vaksin menunjukkan tingkat kemanjuran yang berbeda di berbagai pengaturan, karena protokol uji coba, ukuran data, dan populasi dapat memengaruhi hasil, tetapi cara data Sinovac dirilis menimbulkan kebingungan.

Sejauh ini pihak dari Sinovac belum memberikan komentar.

Baca juga: Vaksin COVID-19 Moderna Punya Efek Samping bagi Orang dengan Kosmetik Filler

Seorang juru bicara kementerian luar negeri China mengatakan pada hari Senin (28/12) bahwa pengembang vaksinnya mendorong kepatuhan ketat pada prinsip-prinsip ilmiah dan persyaratan peraturan.

Vaksin China lainnya dari Sinopharm, CanSino Biologics dan Chinese Academy of Sciences saat ini sedang dalam uji klinis Fase 3.

Data uji coba Turki untuk Sinovac didasarkan pada analisis terhadap 1.322 peserta yang mencakup 29 orang yang terinfeksi, dan evaluasi kemanjuran dilakukan 14 hari setelah dosis kedua diberikan.

Pihak berwenang awalnya berencana untuk mengumumkan hasil ketika jumlah pasien mencapai 40, tetapi memutuskan merilis evaluasi sementara karena negara tersebut berupaya memberikan otorisasi penggunaan darurat.

Indonesia, yang juga mempertimbangkan suntikan untuk inokulasi massal, membingungkan dunia di awal bulan ini ketika Badan Usaha Milik Negara Bio Farma mengatakan keampuhan vaksin itu 97%. Kemudian diklarifikasi bahwa angka pencegahan belum bisa ditentukan dan perlu menunggu data yang lengkap.

“Jika kamu tidak dapat memberikan rincian yang memadai, mungkin lebih baik kamu tidak membuat pengumuman seperti itu,” kata Paul Griffin, seorang profesor di Universitas Queensland yang juga menjalankan sejumlah studi vaksin COVID-19.

“Sulit untuk menentukan seberapa baik vaksin Sinovac bekerja hanya berdasarkan 29 kasus virus korona,” kata Jerome Kim, kepala International Vaccine Institute, sebuah badan nirlaba berbasis di Seoul yang mengabdikan diri untuk penelitian vaksin.

“Akan lebih baik jika memiliki lebih banyak sukarelawan dan lebih banyak infeksi, yang akan meningkatkan kekuatan data kemanjuran.”

Baca juga: AS Akan Rilis 6,4 Juta Dosis Vaksin COVID-19 Pada Distribusi Pertamanya

Pernyataan itu akan membuat data dari Brasil menjadi penting setelah menyelesaikan uji coba dengan 13.000 sukarelawan, sementara studi di Turki dan Indonesia masing-masing melibatkan hanya 7.000 dan 1.600.

“Ini harus dianalisis dengan sangat jelas dan transparan. Dan transparansi adalah salah satu perhatian terbesar bagi China, terutama dengan vaksin mereka dan juga karena rekam jejak mereka,” kata Dicky Budiman, ahli epidemiologi di Universitas Griffith Queensland.

“Jadi ini adalah salah satu waktu yang sangat penting dan krusial bagi China untuk menunjukkan kepada dunia bagaimana mereka telah meningkatkan kualitas vaksin mereka … Ini adalah sesuatu yang harus mereka jelaskan kepada dunia, tentu saja melalui makalah ilmiah,” tuturnya.**(Feb)

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan