Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Rabu, Agustus 4, 2021
redaksi@topcareer.id
Tren

Efikasi Vaksin Sinovac 65,3 %, Apa Maksudnya?

Ilustrasi

Topcareer.id – Dengan turunnya izin penggunaan darurat (Emergency Use Authorization = EUA) dari BPOM, serta fatwa dari MUI, pembagian vaksin Sinovac dapat segera dilakukan.

Namun demikian, masih banyak masyarakat yang khawatir dengan kualitas vaksin buatan China tersebut. Apalagi, efikasi vaksin sinovac diberitakan hanya sebesar 65%, berbeda dengan Pfizer dan Modena yang berada di angka 90%.

Lalu, mengapa efikasi Sinovac bisa lebih rendah dari vaksin Pfizer dan Moderna?

“Vaksin dengan efikasi atau kemanjuran 65,3% dalam uji klinik berarti terjadi penurunan 65,3% kasus penyakit pada kelompok yang divaksinasi dibandingkan dengan kelompok yang tidak divaksinasi (atau plasebo). Dan itu didapatkan dalam suatu uji klinik yang kondisinya terkontrol,” ucap Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, Prof. Dr. apt. Zullies Ikawati dalam keterangan tertulis yang diterima Topcareer.id, Selasa (12/1/2021).

Zullies menambahkan, pada uji klinik Sinovac di Bandung yang melibatkan 1600 orang, terdapat 800 subyek yang menerima vaksin, dan 800 subyek yang mendapatkan placebo (vaksin kosong).

Jika dari kelompok yang divaksin ada 26 yang terinfeksi (3.25%), sedangkan dari kelompok placebo ada 75 orang yang kena Covid (9.4%), maka efikasi dari vaksin adalah = (0.094 – 0.0325)/0.094 x 100% = 65.3%.

“Jadi yang menentukan adalah perbandingan antara kelompok yang divaksin dengan kelompok yang tidak,” ujarnya.

Baca juga: Ini Efek Samping Yang Timbul Dari Vaksin Sinovac

Efikasi sendiri dipengaruhi dari karakteristik subyek ujinya. Jika subyek ujinya adalah kelompok risiko tinggi, maka kemungkinan kelompok placebo akan lebih banyak yang terpapar, sehingga perhitungan efikasinya menjadi meningkat.

Sebaliknya, jika menggunakan populasi masyarakat umum yang risikonya lebih kecil, maka efikasinya juga akan rendah.

“Jika subyek ujinya berisiko rendah, apalagi taat dengan prokes, tidak pernah keluar rumah sehingga tidak banyak yg terinfeksi, maka perbandingan kejadian infeksi antara kelompok placebo dengan kelompok vaksin menjadi lebih rendah, dan menghasilkan angka yang lebih rendah.”

Yang perlu diperhatikan, angka efikasi ini juga bukan harga mati, dan dapat dipengaruhi oleh banyak faktor ketika uji klinik dilakukan.

Selain itu, jumlah subyek uji dan lama pengamatan juga dapat memperngaruhi hasil. Jika pengamatan diperpanjang menjadi 1 tahun, sangat mungkin menghasilkan angka efikasi vaksin yang berbeda.

the authorFeby Ferdian

Tinggalkan Balasan