Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Minggu, November 28, 2021
redaksi@topcareer.id
Covid-19

Apakah Anak-anak Akan Lebih Aman dengan Adanya Vaksin Covid-19?

Topcareer.id – Keberadaan vaksin banyak diharapkan menjadi titik terang dari pandemi Covid-19 yang sudah melanda seluruh dunia. Berbagai pertanyaan pun hadir mengiringi kedatangan vaksin, salah satunya mengenai keselamatan anak-anak.

Salah satu yang kerap ditanyakan, apakah mereka sudah bisa mendapatkan vaksinasi, terutama yang masih di bawah 12 tahun?

“Sayangnya, uji coba vaksin untuk dua vaksin yang disetujui FDA (melalui otorisasi penggunaan darurat) sedang berlangsung, hanya untuk berusia 12 tahun ke atas, dan tidak termasuk untuk anak-anak yang lebih kecil,” ucap Sarah Schaffer DeRoo, MD, seorang dokter anak di Rumah Sakit Nasional Anak di Washington, DC, seperti dikutip dari laman Web MD.

Lalu, jika orang tua mereka divaksinasi, apakah anak-anak mereka yang tidak mendapat vaksinasi jadi lebih aman?

“Kami tidak tahu apakah vaksin tersebut mencegah penularan penyakit,” kata Schaffer DeRoo. “Dengan kata lain, sementara orang tua atau guru yang divaksinasi mungkin tampak sehat, namun mereka masih terinfeksi virus dan menjadi penyebar asimtomatik.”

“Ya, anak-anak akan lebih aman, tapi sekali lagi saya menekankan di dalam skenario ini risiko tidak sepenuhnya hilang,” ucap Lucy McBride, MD, dokter perawatan primer di Washington, DC.

“Ini sesuai dengan konsep imunitas kelompok. Bahkan jika anak-anak itu sendiri tidak kebal, dengan semakin banyak di sekitarnya yang kebal, tidak dapat terinfeksi, dan kecil kemungkinannya untuk membawa virus, maka semakin sedikit risiko yang ditimbulkan kepada mereka.”

CDC mengatakan,anak-anak mungkin dapat kembali ke sekolah, namun dengan beberapa peringatan.

“Risikonya masih ada, tetapi intruksi secara langsung akan dapat dilakukan dengan protokol kesehatan, termasuk mengenakan masker dan menjaga jarak sosial.” ucap Anita Gupta, DO, seorang dokter perawatan kritis di Universitas Johns Hopkins menambahkan.**(Feb)

the authorSherley Agnesia

Tinggalkan Balasan