TopCareerID

Ini Alasan Mengapa Rapat via Zoom Begitu Melelahkan

Topcareer.id – Sebuah studi baru dari pakar komunikasi Universitas Stanford Jeremy Bailenson menyelidiki fenomena “Zoom Fatigue” atau kelelahan akibat melakukan konferensi video.

Ketika pandemi COVID-19 terjadi pada awal 2020 dan orang-orang beralih ke kehidupan mereka dari pertemuan langsung menjadi konferensi video dan menjadi mode komunikasi utama untuk beragam hal.

Tiba-tiba, ratusan juta orang menghabiskan sebagian besar hari mereka dengan duduk di depan layar, mengamati serangkaian wajah yang saling menatap, dan istilah “Zoom Fatigue” pun muncul.

Baca Juga: 5 Tanda Kamu Ketahuan Bos Tak Fokus Saat Meeting Zoom

Bailenson menyampaikan beberapa faktor utama yang membuat konferensi video sangat melelahkan, dan dia merekomendasikan beberapa solusi sederhana untuk mengurangi kelelahan tersebut.

Tidak seperti rapat tatap muka langsung di mana peserta bisa beralih dari melihat pembicara ke aktivitas lain, seperti membuat catatan, sementara di Zoom semua orang akan selalu saling menatap semua orang.

Kecemasan yang ditimbulkan oleh sejumlah wajah yang menatapmu dapat disamakan dengan tekanan berbicara di depan umum. Zoom mengubah setiap peserta yang dipanggil menjadi pembicara konstan yang dibekap dengan tatapan mata.

Faktor lain yang memperparah stres dari tatapan mata yang konstan adalah ukuran wajah di monitor kamu. Penelitian penting dari antropolog budaya Edward Hall pada 1960-an menunjukkan jarak antarpribadi secara fundamental memengaruhi emosi dan perilaku.

Solusi jangka pendek untuk mengurangi masalah ini adalah dengan mengurangi ukuran jendela konferensi video kamu, dan mencoba menjauh dari monitor komputer. Tujuannya adalah meningkatkan ruang pribadi antara dirimu dan wajah peserta Zoom lainnya.

Studi tersebut mengungkapkan bahwa subjek yang melakukan tugas dengan audio tampil lebih baik pada tugas pengenalan sekunder dibandingkan dengan subjek yang menyelesaikan tugas yang sama dengan video conferencing.

Perbedaan tersebut dihipotesiskan sebagai hasil dari peningkatan beban kognitif yang dihasilkan oleh komunikasi video.

Sumber daya mental tambahan yang diperlukan untuk menafsirkan isyarat video berarti dibutuhkan lebih banyak kerja kognitif untuk berkomunikasi.

Bailenson mengatakan rentetan konstan isyarat non-verbal kompleks, baik yang dikirim dan diterima, selama interaksi Zoom dapat menjadi pengaruh besar pada rasa kelelahan baru yang ditimbulkan oleh teknologi.

Dia menyarankan pertemuan Zoom yang panjang harus membutuhkan jeda audio saja, untuk membantu meringankan beban kognitif dari interaksi video.

Gerakan dibatasi dengan cara-cara yang tidak alami dan ini bisa membuatmu lelah karena harus diam di tempat. “Penelitian mengatakan bahwa ketika orang bergerak, mereka bekerja lebih baik secara kognitif,” kata Bailenson.

Solusinya Bailenson menyarankan agar orang lebih memikirkan ruangan tempat mereka melakukan konferensi video, tempat kamera diposisikan, dan apakah hal-hal seperti keyboard eksternal dapat membantu menciptakan jarak atau fleksibilitas.

Misalnya, kamera eksternal yang lebih jauh dari layar akan memungkinkan kamu untuk mengatur kecepatan pergerakanmu untuk pindah dan mencorat-coret catatan dalam rapat virtual seperti dilakukan pada rapat tatap muka nyata.

Dan tentu saja, menonaktifkan video secara berkala selama rapat adalah aturan dasar yang baik untuk ditetapkan dalam suatu kelompok untuk memberikan istirahat nonverbal singkat kepada diri sendiri.**(RW)

Exit mobile version