Find Us on Facebook

Instagram Gallery

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Minggu, April 18, 2021
redaksi@topcareer.id
Profesional

Ini Alasan Mengapa Rapat via Zoom Begitu Melelahkan

Topcareer.id – Sebuah studi baru dari pakar komunikasi Universitas Stanford Jeremy Bailenson menyelidiki fenomena “Zoom Fatigue” atau kelelahan akibat melakukan konferensi video.

Ketika pandemi COVID-19 terjadi pada awal 2020 dan orang-orang beralih ke kehidupan mereka dari pertemuan langsung menjadi konferensi video dan menjadi mode komunikasi utama untuk beragam hal.

Tiba-tiba, ratusan juta orang menghabiskan sebagian besar hari mereka dengan duduk di depan layar, mengamati serangkaian wajah yang saling menatap, dan istilah “Zoom Fatigue” pun muncul.

Baca Juga: 5 Tanda Kamu Ketahuan Bos Tak Fokus Saat Meeting Zoom

Bailenson menyampaikan beberapa faktor utama yang membuat konferensi video sangat melelahkan, dan dia merekomendasikan beberapa solusi sederhana untuk mengurangi kelelahan tersebut.

  • Semua orang menatapmu sepanjang waktu
    Penyebab pertama Zoom Fatigue adalah keadaan stres hyper-arousal yang disebabkan oleh peregangan kontak mata jarak dekat yang berlebihan.

Tidak seperti rapat tatap muka langsung di mana peserta bisa beralih dari melihat pembicara ke aktivitas lain, seperti membuat catatan, sementara di Zoom semua orang akan selalu saling menatap semua orang.

Kecemasan yang ditimbulkan oleh sejumlah wajah yang menatapmu dapat disamakan dengan tekanan berbicara di depan umum. Zoom mengubah setiap peserta yang dipanggil menjadi pembicara konstan yang dibekap dengan tatapan mata.

Faktor lain yang memperparah stres dari tatapan mata yang konstan adalah ukuran wajah di monitor kamu. Penelitian penting dari antropolog budaya Edward Hall pada 1960-an menunjukkan jarak antarpribadi secara fundamental memengaruhi emosi dan perilaku.

Solusi jangka pendek untuk mengurangi masalah ini adalah dengan mengurangi ukuran jendela konferensi video kamu, dan mencoba menjauh dari monitor komputer. Tujuannya adalah meningkatkan ruang pribadi antara dirimu dan wajah peserta Zoom lainnya.

  • Gangguan video
    Sebuah studi berpengaruh yang dilakukan oleh Pamela Hinds, Professor of Management Science & Engineering dari Universitas Stanford melihat perbedaan dalam pemrosesan kognitif antara komunikasi audio dan komunikasi audio-visual. Hinds memasangkan relawan dan memberi mereka dua tugas yang dirancang untuk mengukur beban kognitif.

Studi tersebut mengungkapkan bahwa subjek yang melakukan tugas dengan audio tampil lebih baik pada tugas pengenalan sekunder dibandingkan dengan subjek yang menyelesaikan tugas yang sama dengan video conferencing.

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan