Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Jumat, April 23, 2021
redaksi@topcareer.id
Lifestyle

Mengenal Hipospadia yang Dialami Aprilia Manganang, Ini Penyebab dan Gejalanya

Sumber foto: todaysparent.comSumber foto: todaysparent.com

Topcareer.id – Hipospadia adalah cacat lahir (kondisi bawaan) di mana pembukaan uretra berada di bagian bawah penis dan bukan di ujung. Uretra adalah saluran di mana urine mengalir dari kandung kemi ke luar tubuh.

Hipospadia sering terjadi dan tidak menyebabkan kesulitan dalam merawat bayi. Pembedahan biasanya dilakukan untuk mengembalikan tampilan normal penis bayi dan sehat hingga dewasa.

Baru-baru ini, terdengar kabar bahwa mantan pemain timnas voli Indonesia, Aprilia Manganang didiagnosis mengalami hipospadia.

Akibat hipospadia, Aprilia sekarang menjalani pergantian status kependudukan dari perempuan ke laki-laki. Aprilia juga menjalani operasi hipospadia.

Gejala dan tanda hipospadia:

  • Pembukaan uretra di lokasi selain ujung penis
  • Lekukan penis ke bawah (chordee)
  • Penampilan penis berkerudung karena hanya bagian atas penis yang tertutup kulup
  • Penyemprotan yang tidak normal saat buang air kecil

Sebagian besar bayi dengan hipospadia didiagnosis segera setelah lahir saat masih di rumah sakit. Namun, sedikit perpindahan dari pembukaan uretra mungkin tidak kentara dan lebih sulit untuk diidentifikasi. Ini yang menyebabkan hipospadia terbawa sang bayi tumbuh hingga dewasa.

Bicarakan dengan dokter jika kamu memiliki kekhawatiran tentang penampilan penis anak kamu, atau jika ada masalah dengan buang air kecil.

Baca juga: Covid-19 dan Penutupan Sekolah Bahayakan Masa Depan Perempuan

Penyebab hipospadia
Hipospadia hadir saat lahir (bawaan). Saat penis berkembang pada janin laki-laki, hormon tertentu merangsang pembentukan uretra dan kulup. Hipospadia terjadi ketika terjadi kerusakan akibat kerja hormon-hormon ini menyebabkan uretra berkembang secara tidak normal.

Penyebab pasti hipospadia tidak diketahui. Kadang-kadang, hipospadia bersifat genetik, tetapi lingkungan juga dapat berperan.

Faktor risiko
Meskipun penyebab hipospadia biasanya tidak diketahui, faktor-faktor ini mungkin terkait, seperti:Sejarah keluarga
Kondisi ini lebih sering terjadi pada bayi dengan riwayat keluarga hipospadia.

Genetika
Variasi gen tertentu mungkin berperan dalam gangguan hormon yang merangsang pembentukan alat kelamin pria.

Usia ibu di atas 35 tahun
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mungkin ada peningkatan risiko hipospadia pada bayi laki-laki yang lahir dari wanita berusia di atas 35 tahun.

Paparan zat tertentu selama kehamilan
Ada beberapa spekulasi tentang hubungan antara hipospadia dan paparan ibu terhadap hormon tertentu atau senyawa tertentu seperti pestisida atau bahan kimia industri, tetapi penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi hal ini.

Jika hipospadia tidak diobati, dapat menyebabkan penampilan penis yang tidak normal, kesulitan belajar menggunakan toilet, kelengkungan penis yang tidak normal dengan ereksi, dan masalah gangguan ejakulasi.**(Feb)

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan