Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Jumat, Juli 30, 2021
redaksi@topcareer.id
Tren

Hujan Meteor Lyrid Mencapai Puncaknya Sebelum Supermoon 26 April 2021

supermoonsupermoon (sumber: USAToday)

Topcareer.id – Supermoon dan hujan meteor terbesar pertama pada tahun 2021 akan meramaikan cahaya langit malam saat meteor Lyrid kembali setiap tahunnya.

Tapi bintang jatuh itu kemungkinan akan terbayangi oleh acara langit lain yakni supermoon yang akan bersinar pada 26 April.

Bulan purnama merah muda (supermoon) pada April ini akan menjadi yang pertama dari tiga supermoon yang akan muncul tahun ini.

Apa itu supermoon?
Supermoon adalah bulan yang berubah menjadi purnama saat orbitnya melacak lebih dekat ke Bumi daripada bulan purnama rata-rata.

Bulan tampak 7% sampai 14% lebih besar dan 30% lebih terang daripada purnama biasa, terutama saat mulai terbit di cakrawala.

Ada beberapa perdebatan dalam komunitas astronomi tentang jarak orbit bulan purnama dari planet Bumi untuk diklasifikasikan sebagai supermoon.

Banyak ahli percaya supermoon adalah bulan purnama yang jaraknya kurang dari 358.884 Km dari Bumi pada titik terdekat orbitnya. Beberapa mengukur 360.000 km sebagai patokan untuk supermoon.

Ada juga yang memiliki definisi lebih longgar, selama jaraknya kurang dari 363.000 Km dengan Bumi, dapat terklasifikasikan sebagai supermoon.

Pada April ini Bulan akan berada 222.212 mil dari Bumi saat berubah menjadi purnama, menurut EarthSky. org.

Baca juga: Ilmuwan Antariksa Dapatkan Foto Terdekat Matahari

Kapan bisa melihat hujan meteor Lyrid
Hujan meteor Lyrid terjadi setiap tahun pada bulan April, dan mulai sekitar 16 April hingga mereda sekitar 25 April.

Tahun ini, hujan meteor Lyrid akan mulai meningkat pada larut malam hari Senin, 19 April dan mencapai puncaknya saat menghasilkan jumlah bintang jatuh tertinggi pada larut malam Rabu, 21 April hingga fajar pada Kamis, 22 April, menurut pakar astronomi dari AccuWeather dan EarthSky.org.

Di pedesaan yang gelap dan tanpa bulan, pengamat biasanya melihat sekitar 10 hingga 20 meteor per jam saat hujan meteor Lyrid memuncak.

Jumlah itu berkurang menjadi hanya segelintir meteor setiap jam di daerah perkotaan yang penuh dengan lampu jalan dan lampu terang.

Sayangnya kecerahan Supermoon April ini dapat membatasi jumlah meteor Lyrid yang terlihat jelas saat melintasi langit.

Secara teknis, bulan akan menjadi 63% purnama pada malam 21 April dan 73% purnama pada malam berikutnya.

Dan itu sudah bisa menghasilkan cukup cahaya untuk merusak sebagian pertunjukan hujan meteor Lyrid di langit.

Dari mana asal meteor Lyrid?
Hujan meteor Lyrid adalah salah satu yang tertua yang pernah tercatat, dan meteor ini cenderung cepat dan cerah, menurut NASA.

Bintang jatuh Lyrid sebenarnya adalah partikel debu kecil yang membentuk ekor komet tua bernama Comet Thatcher.

Namanya komet tersebut berasal dari astronom amatir A.E. Thatcher yang menemukan komet tersebut pada tahun 1861 silam.

“Ketika komet datang mengelilingi matahari, debu yang mereka keluarkan secara bertahap menyebar menjadi jejak berdebu di sekitar orbitnya,” catat NASA.

“Setiap tahun Bumi melewati jejak puing-puing ini, yang memungkinkan serpihan-serpihan itu bertabrakan dengan atmosfer kita di mana mereka hancur untuk menciptakan garis-garis api dan warna-warni di langit.”

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan